Menu Close

Perkara yang Paling Kami Khawatirkan dari Diri Kami dan Para Santri adalah Terkait Kebersihan Hati

Harus direnungkan bagi para pelajar atau penuntut ilmu, apalagi bagi orang-orang yang mengisi kajian, para da‘i, ulama dll., adalah terkait kebersihan hati. Berikut adalah Muhammad bin Husain bin ‘Abdillah al-Ajurri (w. 360 H):

ينفقه للرياء، ويحاج للمراء، ومناظرته في العلم تكسبه المأثم، مراده في مناظرته أن يعرف بالبلاغة، ومراده أن يخطئ مناطرته

Mengamalkan ilmunya karena riya’, berargumentasi supaya terlihat ahli. Berdiskusi atau debat keilmuan dengannya justru membuahkan dosa. Ia berargumentasi dengan maksud agar terlihat piawai menggunakan kata-kata dan untuk menyudutkan kesalahan lawan bicaranya.

ينطق بالحكمة فيظن أنه من أهلها، ولا يخاف عظم الحجة عليه لتركه استعمالها

Bertutur kata dengan bijak agar ia disangka sebagai ahli hikmah. Ia tak khawatir besarnya tanggungjawab ucapannya karena ia tak mengamalkannya.

إن سئل عما لا يعلم أنف أن يقول: لا أعلم

Jika ditanya masalah yang ia belum pahami, ia segan menjawab “saya tidak tahu”

ثم علم أنه أخطأ أنف أن يرجع عن خطئه، فيثبت بنصر الخطاء؛ لئلا تسقط رتبته عند المخلوقين

Jika tahu dirinya salah, ia enggan menarik pendapatnya bahkan dipertahankan dengan berbagai dalih, agar pamornya tidak jatuh di mata orang banyak.

Muhammad bin Husain bin ‘Abdillah al-Ajurri. Beliau pakar hadits yang menuntut ilmu di Baghdad dan menjadi teladan di al-Haram al-Syarif pada zamannya.

Sumber: Kitab Akhlaq al-‘Ulama’ lil Ajurri, cet. 1 (Damaskus: Darul Qalam,1422 H/2001 M), hlm. 93-94.

[Yuana Ryan Tresna]

Leave a Reply