Adab

PENTINGNYA ADAB

Suatu ketika Imam Yahya bin al-Qaththan, setelah melaksanakan shalat ashar, bersandar di bawah menara masjid beliau. Di sekitar beliau ada Ali bin al-Madini, asy-Syadzakuni, Amru bin Ali, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Main serta ulama lainnya yang ingin berguru kepada beliau. Mereka berdiri hingga menjelang shalat magrib.

Saat itu Imam Yahya bin al-Qaththan tidak meminta mereka untuk duduk. Karena itu mereka pun enggan untuk duduk dalam rangka menghormati guru (Al-Jami’ al-Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’, hlm. 78).

Demikianlah cara ulama terdahulu menghormati guru mereka. Mereka tetap memilih berdiri meski dalam waktu yang cukup lama, sebelum sang guru mempersilakan mereka duduk.

Di lain waktu, Imam al-Fara’—seorang ulama Kufah yang paling pandai dalam ilmu nahwu dan sastra—diminta oleh Khalifah Makmun untuk mengajarkan ilmu nahwu untuk kedua putranya. Ketika beliau selesai mengajar dan beranjak untuk pergi, kedua anak Khalifah itu berebut untuk membawakan sandal Imam al-Fara’ sebagai bentuk penghormatan mereka kepada sang guru. Mengetahui hal itu, Imam al-Fara’ akhirnya meminta kepada kedua anak itu masing-masing membawa satu sandal hingga keduanya sama-sama menyerahkan sandal kepada beliau (Wafayat al-A’yan, 2/228).

Tidak hanya murid terhadap guru, adab juga acapkali ditunjukkan oleh ulama kepada ulama lainnya. Imam Syafii rahimahullah—seorang ulama besar sekaligus imam mujtahid—pernah suatu saat melaksanakan shalat subuh di dekat makam Imam Abu Hanifah. Saat itu ia memilih tidak melaksanakan qunut subuh dalam rangka menjaga adab terhadap Imam Abu Hanifah yang berpendapat bahwa qunut subuh tidak disyariatkan (Ad-Dahlawi, Al-Inshaf fi Bayan Asbab al-Ikhtilaf, hlm. 110).

Demikianlah, betapa para ulama besar di zaman terdahulu amat hormat kepada ulama lainnya, meski berbeda pendapat. Bahkan terhadap ulama yang sudah wafat pun adab itu tetap dijaga.

Adab yang sama ditunjukkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Selama ini beliau berpendapat mengenai keharusan membaca basmalah (saat membaca surat al-Fatihah) secara sirr (pelan dan hanya diri sendiri yang mendengar) dalam salat. Namun, di wilayah tertentu beliau berpendapat, “Dibaca jahr (dengan suara jelas yang bisa didengar oleh orang lain) basmalah jika berada di Madinah.”

Ibnu Taimiyah menyimpulkan bahwa Imam Ahmad kadang-kadang meninggalkan beberapa perkara sunnah demi alasan persatuan dan menghindari perpecahan. Alasannya, menyatukan hati umat lebih agung dalam agama dibandingkan dengan beberapa perkara sunnah (Risalah al-Ulfah bayna al-Muslimin, hlm. 47 dan48)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Qadhi Abu Utsman al-Baghdadi, meskipun termasuk ulama besar dan hakim mazhab al-Maliki, sering mengunjungi Imam ath-Thahawi yang bermazhab Hanafi untuk menyimak karya-karya beliau (Al-Maqalat al-Kautsari, hlm. 348).

Adab juga ditunjukkan oleh para ulama terhadap ilmu. Suatu saat, Imam al-Hulwani—ulama pengikut mazhab Hanafi yang menjadi imam besar di Bukhara—pernah menyampai-kan, “Sesungguhnya aku memperoleh ilmu ini dengan memuliakannya dan aku tidak mengam-bil catatan ilmu kecuali dalam keadaan suci.”

Hal ini diikuti oleh murid beliau yang juga seorang ulama besar, yakni Imam Syamsuddin as-Sirakhsi. Suatu saat beliau mengulang wudhu pada malam hari hingga 17 kali karena sakit perut. Hal itu beliau lakukan agar bisa menelaah ilmu dalam keadaan suci (Mukhatsar al-Fawaid al-Makkiyah, hlm. 30).

Adab dan penghargaan para ulama terhadap ilmu juga ditunjukkan oleh Al-Hafizh Muhammad bin Abdissalam al-Bilkandi, salah seorang guru Imam al-Bukhari. Suatu saat beliau menghadiri majelis imla‘ hadits. Saat Syaikh di majelis tersebut mendiktekan hadits, tiba-tiba pena al-Bikandi patah. Khawatir kehilangan kesempatan untuk mencatat, beliau akhirnya mencari cara agar segera memperoleh pena. Tak lama kemudian beliau berteriak, “Saya mau beli pena dengan harga satu dinar!” Seketika, banyak pena disodorkan kepada beliau (Umdah al-Qari, 1/165).

Kini, satu dinar emas, kalau dikurskan ke rupiah kurang lebih senilai Rp 2 juta. Demikianl ah Imam al-Bikandi. Ia rela kehilangan uang sebesar itu hanya agar beliau tetap berkesempatan mencatat hadits. Itu ia lakukan tentu karena penghormatan dan penghargaannya yang luar biasa terhadap ilmu.

Adab juga ditunjukkan oleh penguasa terhadap ulama. Imam ar-Rafii suatu saat mengunjungi Sultan Khawarzmi Syah setelah tiba dari medan pertempuran. Ulama tarjih mazhab Syafii tersebut menyampaikan, “Saya telah mendengar bahwa Anda memerangi orang-orang kafir dengan tangan Anda sendiri. Saya ke sini untuk mencium tangan Anda itu.” Namun, Khawarizmi Syah menjawab, “Saya justru yang yang ingin mencium tangan Anda.” Akhirnya, Khawarizmi  mencium tangan Imam ar-Rafii (Thabaqat asy-Syafi’iyah al-Kubra, VIII/284).

Karena begitu berharganya akhlak atau adab para ulama, ada sebuah kisah menarik terkait seorang ulama besar bernama Ibn al-Mubarak. Saat itu ia bertetangga dengan seorang Yahudi. Si Yahudi berencana menjual rumahnya. Datanglah seseorang yang menawar rumahnya, “Engkau menjual dengan harga berapa?” Si Yahudi menjawab, “Dua ribu.” Si penanya berkata, “Harga rumahmu ini paling mahal seribu.” Si Yahudi menjawab, “Memang benar, tetapi yang seribu lagi untuk ‘harga’ tetanggaku, Ibnu Mubarak.” (Al-Makarim wa al-Mafakhir, hlm. 23)

Demikianlah, memiliki tetangga baik, berakhlak dan beradab seperti Ibnu Mubarak merupakan sebuah ‘harta’ yang amat mahal bagi si Yahudi. Karena itu, ia menilai tidak hanya rumahnya yang berharga, tetangganya yang baik juga memiliki harga tersendiri.

*****

Mengapa begitu mulia akhlak atau adab para ulama dan para salafush-shalih dulu? Kata-kata Imam Ibn Qasim, salah satu murid senior Imam Malik, barangkali bisa menjelaskan hal ini saat ia berkata, “Aku telah mengabdi kepada Imam Malik bin Anas selama 20 tahun. Selama itu 18 tahun aku mempelajari adab (akhlak) dari beliau, sedangkan sisanya 2 tahun untuk belajar ilmu.” (Tanbih al-Mughtarrin, hlm. 12).

Bagaimana dengan kita?

وما توفيقي إلا بالله عليه توكلت وإليه أنيب

[Arief B. Iskandar]

PENTINGNYA MURAQABAH

Mengimani Allah SWT tidak cukup sebatas meyakini Allah sebagai Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan. Mengimani Allah SWT juga berarti meyakini bahwa Allah Maha Mengawasi setiap amal perbuatan manusia. Inilah yang dipesankan Lukman al-Hakim kepada putranya sebagaimana dikisahkan dalam al-Quran:

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

(Luqman berkata), “Anakku, sungguh jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi—yang berada di dalam batu, di langit atau di dalam bumi—niscaya Allah akan datangkan (balasannya). Sungguh Allah Mahahalus lagi Mahatahu (TQS Luqman [31]: 16).

Imam ath-Thabari menyatakan ayat ini berisi pesan yang bermanfaat, yakni bahwa kezaliman atau kesalahan meski sekecil biji sawi akan Allah hadirkan (balasannya) pada Hari Kiamat saat Dia melakukan penimbangan keadilan. Balasan atas kebaikan adalah kebaikan. Balasan untuk kejahatan adalah keburukan (azab).

Adapun tentang frasa “Lathifun Khabirun”, Imam Jarir ath-Thabari mengungkapkan bahwa betapa halus dan teliti pengawasan Allah. Tak ada sedikit pun bagi Allah SWT yang tersembunyi sekalipun butiran halus dan kecil. Tak ada sesuatu pun yang tersembunyi di hadapan Allah SWT meski itu adalah  semut hitam yang merayap pada malam yang gulita. Ini karena Allah adalah Al-Khabir (Mahatahu).

Allah Ar-Raqib (Maha Mengawasi)

Banyak ayat yang menguraikan bahwa Allah SWT senantiasa memperhatikan, mencatat, menghitung dan kelak akan membalas perbuatan hamba-hamba-Nya. Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Sungguh Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian (TQS an-Nisa’ [4]: 1).

أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Engkaulah yang mengawasi mereka. Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu (TQS al-Maidah [5]: 117).

Menurut Syaikh Abdurrahman as-Sa’di, “Ar-Raqib dan Asy-Syahid adalah sinonim. Keduanya menunjukkan sifat Allah yang meliputi apa saja yang Dia dengar dari semua yang didengar. Dia menyaksikan apa saja dari semua yang dilihat. Dia  mengetahui seluruh informasi yang kecil dan tersembunyi. Dia Maha Mengawasi apa pun yang terbersit dan yang menggerakkan pandangan, apalagi yang digerakkan oleh anggota tubuh.” (As-Sa’di, Tafsir Asma’ al-Husna).

Karena itu penting meyakini adanya pengawasan Allah SWT ini. Keyakinan ini pasti melahirkan energi positif bagi umat Muslim. Seorang Muslim yang mengimani sifat Allah, yakni Ar-Raqib, pasti akan bersungguh-sungguh melaksanakan syariah-Nya. Ia tak akan menelantarkan hukum-hukum-Nya. Perintah Allah SWT dalam ibadah, muamalah dan politik-kenegaraan akan dijalankan dengan paripurna. Kekhusyukannya akan muncul saat beribadah karena yakin Allah Mahatahu atas apa yang terbersit dalam hati. Ia juga akan menjauhkan diri dari semua perkara yang telah Allah haramkan. Sepeser pun harta haram tak akan mau ia sentuh. Ia takut, harta haram, walau hanya sepeser, akan membuat dirinya diazab di akhirat kelak.

كُلُّ جَسَدٍ نَبَتَ مِن سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلىَ بِهِ

Setiap daging yang tumbuh dari kecurangan (keharaman) maka neraka lebih layak baginya (HR al-Bayhaqi)

Meyakini sifat Allah,  Ar-Raqib, akan mendorong kehidupan yang dinamis, produktif dan aman. Kejahatan akan surut bukan semata karena takut adanya sanksi dari syariah Islam, tetapi yang paling utama karena sifat muraqabatulLah (meyakini adanya pengawasan Allah). Kehormatan, harta dan jiwa akan terjaga karena sikap muraqabatulLah telah mencegah seseorang dari perbuatan aniaya. Seorang suami atau istri tak akan mengkhianati pernikahan mereka karena adanya muraqabatulLah. Anak pun akan menjaga amanah orangtuanya karena hal yang sama. Dengan itu keluarga akan sakinah mawaddah wa rahmah.

Di dunia bisnis, para pedagang tak akan menipu pembeli hanya untuk keuntungan ‘tak seberapa’. Mereka akan lebih memilih keuntungan yang lebih besar di sisi Allah SWT. Para pebisnis tak akan mau mengkhianati mitra usaha mereka karena takut akan pengawasan Allah SWT serta mengharapkan keberkahan pada usaha mereka.

إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ أَنَا ثَالِثُ الشَّرِيكَيْنِ مَا لَمْ يَخُنْ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ فَإِذَا خَانَهُ خَرَجْتُ مِنْ بَيْنِهِمَا

Sungguh Allah telah berfirman, “Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang berserikat selama salah satu dari mereka tidak mengkhianati saudaranya. Jika ia mengkhianati saudaranya, Aku berlepas diri dari keduanya.” (HR Abu Dawud).

Bercermin kepada Para Khalifah

Sejarah Islam mencatat banyak prestasi kepemimpinan yang luar biasa dari para khalifah kaum Muslim berkat adanya sifat muraqabah ini. Keadilan hukum tercipta. Kemakmuran pun merata. Khalifah Umar bin al-Khaththab, misalnya, sering menangis pada malam hari karena sering mencemaskan keadaan rakyatnya. Ia pernah berkata kepada Muawiyah bin Hudaij, “Kalau aku tidur pada siang hari, aku menelantarkan rakyatku. Bila aku tidur pada malam hari, aku menelantarkan diriku (tidak shalat malam). Bagaimana bisa aku tidur dalam dua keadaan itu, wahai Muawiyah?”

Dalam kesempatan lain ia berkata, “Jika ada seekor unta mati karena disia-siakan, aku takut Allah meminta pertanggungjawabanku.”

Khalifah Harun ar-Rasyid pernah mendatangi Imam Fudhail bin Iyad, seorang ulama terkemuka yang terkenal berani, untuk meminta nasihat. Fudhail bin Iyad kemudian menceritakan akhlak Khalifah Umar bin Abdul Aziz kepada Harun ar-Rasyid. Setelah itu ia berkata, “Umar bin Abdul Aziz menganggap jabatan sebagai bala/bencana, sedangkan engkau menganggap Khilafah sebagai nikmat. Sekarang aku berkata padamu, wahai Khalifah Harun. Aku sangat mencemaskan kamu kelak ketika tapak-tapak kaki manusia tergelincir dari shirathal mustaqim. Sudahkah ada orang yang menasihati kamu tentang hal itu?” Mendengar nasihat itu Khalifah Harun ar-Rasyid menangis sejadi-jadinya karena mencemaskan nasibnya di Hari Akhir kelak.

Karakter muraqabatulLah yang telah melekat pada diri seorang pemimpin akan menjadikan dirinya sebagai pemimpin yang adil dan amanah. Pemimpin semacam ini tak akan mau menyelewengkan kekuasaan dan memakan harta rakyatnya. Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. pernah memarahi anaknya, Abdullah, karena menyimpan ternaknya di padang gembalaan ternak milik Baitul Mal. Ternak itu pun disita untuk dijadikan milik Baitul Mal.

Seorang pemimpin yang memiliki sikap muraqabah benar-benar gemetar hanya kepada Allah SWT, bukan kepada mahluk-Nya. Ia tak mempedulikan rongrongan pengusaha licik, politisi curang atau kekuatan asing yang berusaha merusak tatanan keadilan yang telah diciptakan hukum-hukum Allah SWT. Ia lebih takut pada pengaduan rakyatnya yang teraniaya ke hadapan Allah SWT. Ia pun takut pada doa yang pernah dipanjatkan Rasulullah saw. yang mengancam para pemimpin zalim.

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِىَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِى شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ

Ya Allah, siapa saja yang mengurus suatu urusan umatku, lalu ia menyusahkan mereka, maka timpakanlah kesusahan kepada dia (HR Muslim).

Sekularisme Merusak

Sayang, saat ini akidah Islam di tengah umat justru digerus oleh paham sekularisme, (pemisahan agama dari kehidupan). Akibat sekularisme, rasa takut akan pengawasan Allah SWT tidak ada lagi kecuali dalam urusan ibadah belaka. Orang bisa bercucuran air mata saat menunaikan ibadah; saat berdiri di depan Ka’bah, bersedekah kepada fakir miskin, membaca al-Quran, berzikir atau berdoa. Namun, air mata tak menetes setetes pun saat menelantarkan hukum-hukum Allah SWT dan melakukan perbuatan haram. Hati mereka tak gemetar ketika mempraktikkan ekonomi ribawi, melakukan korupsi, suap-menyuap, menipu rakyat, menjual kedaulatan negeri kepada pihak asing dan aseng. Mereka tak peduli sedikitpun bahwa tindakan mereka senantiasa diawasi oleh Allah SWT dan pasti akan mengundang azab-Nya.

Lenyapnya muraqabah dalam system sekular ini juga mencetak orang-orang munafik. Berpura-pura menampakkan kebaikan padahal tidak tulus. Ada pamrih yang dituju. Tidak jarang politisi dan pejabat bermental sekular berbaik-baik pada umat Muslim, menampakkan wajah keislaman, semata untuk mencari dukungan politik. Saat kedudukan sudah diraih, umat justru dizalimi. Itu terjadi karena mereka seolah tidak percaya bahwa Allah Mahatahu atas setiap pengkhianatan yang disembunyikan dalam hati manusia. Padahal Allah SWT telah berrfirman:

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati (TQS Ghafir [40]: 19).

Khatimah

Alhasil, meyakini sifat Allah, Ar-Raqîb, adalah bagian yang penting dari keimanan. Ia tak boleh lenyap dari kehidupan umat. Inilah yang akan mengantarkan kaum Muslim pada karakter muraqabatulLah. Dengan karakter ini umat akan kembali pada ketaatan yang utuh. Mereka akan bersungguh-sungguh melaksanakan hukum-hukum Allah SWT dan meninggalkan semua perkara yang telah Dia haramkan. Karakter ini pun akan mendorong umat untuk mencampakkan ideologi Kapitalisme yang berakidahkan sekularisme, juga ateisme dan komunisme, yang telah nyata merusak tatanan kehidupan umat manusia. [Buletin Kaffah]

MEMELIHARA AMALAN-AMALAN SUNNAH

Allah SWT berfirman (yang artinya), Sembahlah Allah hingga datang kepada kamu sesuatu yang meyakinkan (maut). (TQS al-Hijr: 99).

Terkait ayat di atas, Imam asy-Sya’rawi menyatakan, bahwa ibadah adalah ketaatan seorang hamba kepada Zat Yang disembah. Ibadah itu sendiri mencakup seluruh gerak hidup manusia. Asy-Sya’rawi juga menegaskan, bahwa sesuatu yang meyakinkan yang disepakati oleh setiap orang—yang tidak   ada pertentangan di dalamnya—adalah kematian. (Imam asy-Sya’rawi, Tafsir asy-Sya’rawi, I/4836).

Ayat ini sesungguhnya memerintahkan kita untuk selalu istiqamah dalam beribadah kepada Allah SWT hingga akhir hayat kita.  Sikap istiqamah dalam beribadah kepada Allah SWT hingga kematian menghampiri kita tentu hanya akan bisa dilakukan jika kita mampu memelihara amal-amal shalih kita, baik yang wajib maupun yang sunnah. Amalan yang wajib tentu tak perlu diperbincangkan lagi; mutlak harus dilakukan.

Hanya saja, wajib itu ada dua: fardhu ’ain dan fardhu kifayah. Sayangnya, fardhu kifayah ini sering diabaikan oleh kebanyakan Muslim hanya karena sudah ada sekelompok orang yang berusaha menunaikannya, padahal kelompok tersebut belum berhasil menunaikannya. Misalnya adalah kewajiban menegakkan Khilafah dan syariah Islam secara total dalam aspek kehidupan, sekaligus menyerbarluaskan Islam ke seluruh penjuru dunia. Padahal Baginda Rasulullah saw., sejak menerima wahyu pertama, diikuti oleh para Sahabat, tidak pernah sejenak pun beristirahat untuk berdakwah sekaligus berjuang menegakkan Islam hingga mereka berhasil mendirikan Daulah Islam (Negara Islam di Madinah).

Setelah Negara Islam berdiri pun, dakwah Rasulullah saw. dan para Sahabat tidak berhenti. Melalui institusi Negara Islam yang mereka dirikan itu, Islam lalu disebarluaskan ke seluruh penjuru dengan dakwah dan jihad. Mereka senantiasa istiqamah serta tanpa lelah terus berdakwah dan berjuang untuk Islam hingga datang kepada mereka sesuatu yang meyakinkan, yakni kematian.

Selain amal-amal yang wajib, tentu setiap Muslim harus memelihara amalan-amalan sunnah. Tentu karena amalan-amalan sunnah pun memiliki banyak keutamaan yang tidak boleh diabaikan begitu saja oleh setiap Muslim. Contohnya adalah shalat-shalat sunnah (nafilah). Dalam hal ini, Rasulullah saw., misalnya, pernah bersabda, ”Hendaklah kalian banyak bersujud. Sebab, siapa saja yang bersujud kepada Allah SWT satu kali, Dia akan mengangkat derajatnya satu derajat dan menghapus darinya satu kesalahan (dosa).” (HR Muslim).

Di antara shalat sunnah yang paling utama adalah shalat malam (tahajud). Allah SWT berfirman (yang artinya):

Pada sebagian malam itu, bertahajudlah kalian sebagai ibadah tambahan bagi kalian. (Dengan shalat malam itu) Allah pasti mengangkat kalian ke derajat yang terpuji (TQS al-Isra’: 79).

Begitu pentingnya shalat tahajud ini, Rasulullah saw. sampai menyuruh kita untuk ”mengqadhanya” saat tertinggal. Beliau bersabda, ”Jika kalian tertinggal dari menunaikan shalat malam karena sakit atau hal lain, hendaklah kalian menunaikan shalat dua belas rakaat di siang hari.” (HR Muslim).

Dalam hadits lain beliau bersabda, ”Siapa saja yang ketiduran hingga tidak menunaikan shalat witir atau sunnah-sunnahnya, hendaklah ia menunaikannya saat terjaga.” (HR Muslim).

Sebaliknya, Rasulullah saw. ”mencela” orang yang tidak melakukan shalat malam, padahal ia sering bangun tengah malam. Beliau bersabda kepada Abdullah bin Amr bin al-’Ash, ”Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan; ia bangun malam tetapi tidak menunaikan shalat malam.” (Mutaffaq ’alaih).

Dalam Al-Fath dinukil kata-kata Ibn ’Arabi, ”Di dalam hadits ini terdapat anjuran untuk mendawamkan amal kebajikan yang biasa dilakukan oleh seorang Muslim tanpa melalaikannya. Dapat disimpulkan dari hadits tersebut, bahwa makruh memutus ibadah (tidak mendawamkannya) meskipun bukan ibadah wajib.” (Muhammad ’Allan ash-Shiddqi, Dalil al-Falihin, I/313).

Amalan sunnah lain yang tak kalah utamanya adalah membaca Alquran. Baginda Rasulullah saw. bersabda, ”Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya.” (HR al-Bukhari).

Beliaun pun bersabda, ”Bacalah oleh kalian Alquran karena ia akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafaat bagi orang yang terbiasa membaca dan mengamalkannya.” (HR Muslim).

Tentu masih banyak amalan-amalan sunnah yang lain seperti memperbanyak zikir, shaum sunnah (shaum Senin-Kamis, shaum Dawud, dll), bersedekah, dll. Semua itu selayaknya dilakukan secara kontinu (dawam). Pasalnya, kata Baginda Rasulullah saw., sebagaimana dituturkan Ummul Mukmin Aisyah ra., ”Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah SWT adalah yang paling kontinu (dawam) dilakukan meski sedikit.” (HR al-Bukhari).

Semoga kita bisa mengamalkan sabda Nabi saw. di atas.

وما توفيقي الا بالله

[Arief B. Iskandar]

KUNCI ZUHUD

Di tengah-tengah kehidupan yang serba profan dan materialis kini, zuhud barangkali sudah menjadi kata yang asing dan aneh bagi kebanyakan orang, bahkan mungkin bagi sebagian pengemban dakwah.

Bagi orang kaya yang biasa bergelimang harta dan kemewahan, hidup zuhud tentu terasa aneh. Bagi orang miskin, hidup zuhud (baca: miskin) tentu amat dibenci. Tentu demikian jika zuhud diidentikan dengan kefakiran atau kemiskinan.

Padahal zuhud tidaklah identik dengan hidup fakir atau miskin. “Zuhud itu bukan berarti miskin harta. Zuhud tidak lain mengosongkan kalbu dari (kecintaan) terhadap harta. Nabi Sulaiman as. sesungguhnya orang yang kaya harta dengan kebesaran kerajaannya, tetapi ia termasuk orang zuhud,” demikian kata Imam al-Ghazali (Al-Ghazali, Ihya ’Ulum ad-Din, I/29).

Karena itu, zuhud sebetulnya bisa menjadi pakaian sekaligus perhiasan setiap Muslim, baik yang kaya ataupun yang miskin. Muslim yang kaya bisa sekaligus menjadi orang zuhud saat ia tidak disibukkan oleh kekayaannya hingga melupakan Allah SWT dan Rasul-Nya. Kekayaannya malah makin menambah ketaatan dirinya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Ia makin rajin ibadah, makin giat berdakwah, makin bersemangat dalam menginfakkan hartanya di jalan Allah SWT. Inilah yang ditunjukkan oleh generasi sahabat yang tergolong kaya seperti Abu Bakar ra., Umar bin al-Khaththab ra., Utsman bin Affan ra., Abdurrahman bin Auf ra., Mushab bin Umair ra., dll. Meski mereka kaya-raya, mereka tetaplah ahli ibadah dan giat berdakwah. Meski kaya-raya, mereka tidaklah disibukkan untuk terus menumpuk harta. Sebaliknya, mereka malah sibuk menghabiskan harta mereka di jalan Allah SWT. Pasalnya, bagi mereka, hidup kaya tidaklah menjadikan mereka bangga. Mereka bahkan amat khawatir dengan kekayaan mereka; khawatir jika Allah SWT telah menurunkan seluruh kenikmatan kepada mereka itu di dunia ini saja sehingga tak tersisa lagi kenikmatan untuk mereka di akhirat. Inilah yang menjadikan mereka ’takut’ dengan bertumpuknya harta sehingga dengan berbagai cara, mereka menghabiskan harta mereka di jalan Allah SWT.

Orang miskin pun bisa menjadi orang zuhud saat ia tidak ’disibukkan’ dengan kemiskinannya. Kemiskinan tidak menjadi penghalang bagi dirinya untuk taat beribadah dan giat berdakwah. Bahkan meski miskin, ia tetap berusaha untuk bersedekah; mungkin bukan dengan hartanya, tetapi dengan tenaganya, akal-pikirannya, atau sekadar dengan senyumnya kepada sesama.

Sebaliknya, orang kaya atau miskin bisa jadi sama-sama dihinggapi oleh penyakit hubb ad-dunya’ (kecintaan terhadap dunia)—sesuatu yang tentu berlawanan dengan sikap zuhud. Tentu buruk orang kaya yang mengidap penyakit hubb ad-dunya’ sehingga memalingkan dirinya dari ketaatan Allah SWT dan Rasul-Nya. Namun, lebih buruk lagi jika orang miskin mengidap penyakit yang sama. Sudahlah miskin di dunia, ia tak mau beribadah. Sudahlah hidup susah, ia malas berdakwah. Sayangnya, golongan yang terakhir ini pun banyak jumlahnya.

*****

Muslim yang zuhud tentu memiliki sejumlah tanda yang bisa dikenali. Imam al-Ghazali setidaknya menyebut 3 (tiga) tanda zuhud (‘alamat az-zuhd).

Pertama: tidak bergembira atas harta yang dia miliki dan tidak bersedih hati atas harta yang tidak dia miliki atau yang hilang dari diri. Ini sebagaimana firman Allah SWT (yang artinya): …agar kalian tidak berduka atas apa yang hilang dari diri kalian dan tidak terlalu bergembira atas apa Allah berikan kepada kalian (TQS al-Hadid [57]: 23).

Kedua: Sama saja bagi dirinya pujian dan celaan manusia (Pujian tidak membuat dirinya bergembira. Celaan tidak membuat dirinya duka-lara).

Ketiga: Perhatian terbesarnya hanyalah Allah SWT. Ia senantiasa merasakan kelezatan dalam ketaatan kepada Allah SWT karena kalbunya memang tidak pernah kosong dari rasa cinta (mahabbah) kepada-Nya (Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum ad-Din, III/333).

Bagi seorang Muslim, termasuk pengemban dakwah sekalipun, memang tidaklah mudah menjadi orang zuhud di tengah kepungan atmosfir kehidupan yang materialistis dan godaan dunia yang makin hedonis saat ini.

Namun demikian, Imam Hasan al-Bashri telah memberikan kepada kita ‘kunci zuhud’.

Pertama: Selalu yakin bahwa rezeki kita tak mungkin diambil orang lain sehingga hati kita selalu merasa tenang. Keyakinan seperti ini paling tidak akan melahirkan dua sikap: (1) Tawakal, tentu dibarengi dengan usaha mencari rezeki secara optimal; (2) Tidak tamak dan rakus terhadap harta, apalagi terlalu ambisius mengejar kekayaan hingga sering melalaikan kewajiban, misalnya kewajiban berdakwah.

Kedua: Selalu yakin bahwa amal kita tak mungkin dikerjakan oleh orang lain. Keyakinan ini akan selalu menyibukkan diri kita untuk terus beramal tak kenal lelah, termasuk amal dakwah. Dengan itu tak mungkin, misalnya, kita berdakwah karena disuruh-suruh oleh orang lain; sementara jika tidak disuruh, kita tak berdakwah.

Ketiga: Selalu yakin bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi kita. Keyakinan ini akan menjadikan kita selalu hati-hati dan waspada dari segala perbuatan dosa. Bahkan kita malu untuk berbuat dosa meski dosa kecil sekalipun. Sebab, bagi seorang Muslim—sebagaimana dinyatakan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyah al-‘Awliya’—masalahnya bukan kecilnya dosa, tetapi kepada siapa sesungguhnya ia berdosa. Tentu, dosa besar atau kecil, hakikatnya sama-sama merupakan maksiat kepada Allah SWT.

Keempat: Selalu yakin bahwa kematian adalah suatu kepastian. Keyakinan ini akan mendorong kita untuk terus mempersiapkan bekal demi menghadap kepada Allah SWT pada Hari Akhir nanti.

*****

Zuhud sekilas tampak sebagai perkara sepele. Namun jika kita renungkan, zuhud sebetulnya menyimpan energi positif yang luar biasa bagi seorang Muslim. Seorang Muslim yang zuhud, misalnya, akan senantiasa bersemangat dalam beribadah, antusias dalam bersedekah, dan giat dalam berdakwah. Sebab, urusan dunia bagi dirinya bukan lagi menjadi fokus utama. Fokus utamanya adalah urusan akhirat, juga urusan umat.

Sebaliknya, cinta dunia—sebagai lawan dari sikap zuhud—juga menyimpan energi luar biasa bagi seorang Muslim, tentu bukan energi positif, tetapi energi negatif. Energi yang justru bisa mematikan hati (Lihat: Ibn ’Ajibah, Iqazh al-Himam Syarh Matan al-Hikam, I/63).

Jika hati sudah mati, ibadah tak lagi terasa sedap; sedekah tak lagi terasa lezat; dakwah pun tak lagi terasa nikmat, malah mungkin terasa berat. Na’udzu bilLah min dzalik!

وما توفيقي الا بالله

[Arief B. Iskandar]

INDAHNYA AKHLAK ULAMA

Imam Ibnu Sirin, seorang ulama besar dari kalangan Tabi’in, suatu saat bertanya kepada seseorang, “Bagaimana kabarmu?” Orang itu balik bertanya, “Bagaimana jika ada orang yang memiliki hutang 500 dirham, sedangkan ia juga harus menanggung nafkah keluarga?”

Ibnu Sirin paham. Ia pun segera masuk ke rumah dan keluar kembali dengan membawa uang 1000 dirham (sekitar Rp 70.000.000,-) hingga tidak ada sisa uang di rumahnya. Lalu ia berkata, “Ini untuk melunasi hutangmu 500 dan untuk menafkahi keluargamu 500.” (Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum ad-Din, 6/1052).

Imam Ahmad bin Hanbal suatu saat ditanya mengenai masalah wara’ (sifat kehati-hatian terhadap dosa). Beliau  menjawab, “Aku beristighfar kepada Allah. Tidak halal bagiku untuk berbicara masalah wara’, sedangkan aku makan dari Pasar Baghdad. Bisyr bin al-Harits layak untuk memberikan jawaban kepadamu mengenai hal itu, karena ia tidak makan dari Pasar Baghdad.” (Al-Bidayah wa an-Nihayah, X/297).

Imam Hasan al-Bashri sering meng-ghibah dirinya sendiri dengan mengatakan, “Kamu ini suka berkata-kata dengan perkataan orang-orang shalih yang selalu taat dalam beribadah, sedangkan engkau melakukan perbuatan orang-orang fasik, munafik dan mereka yang suka pamer!” (Tanbih al-Mughtarrin, hlm. 9).

Muhammad bin Sa’ad adalah seorang ulama zuhud. Suatu saat, tanpa disadari beberapa uang dinarnya—yang bernilai jutaan rupiah jika dikurskan saat ini—jatuh dan hilang. Ia lalu berusaha mengajak seorang pengayak tepung untuk mencari uang tersebut. Akhirnya, beliau menemukan kembali uangnya. Namun, ia malah berkata sendiri kepada dirinya, “Apakah di dunia ini hanya ada dinarmu saja?”

Seketika, uang itu pun ia tinggalkan. Ia lalu berkata kepada si pengayak, “Dinar itu menjadi milikmu.” (Tarikh Baghdad, 5/15).

Sultan Murad II, salah seorang penguasa Khilafah Utsmaniyah, telah memilih guru-guru khusus yang bertugas mendidik putranya. Salah satunya adalah Syaikh Ahmad bin Ismail al-Kaurani. Sultan Murad II sekaligus memberi Syaikh al-Kaurani pemukul, yang sewaktu-waktu bisa digunakan memukul Muhammad kecil jika ia melakukan pembangkangan (Nashr al-Kabir Muhammad al-Fatih, hlm. 40-41).

Saat muda, Imam Abu Yusuf pernah menghadiri majelis ilmu Imam Abu Hanifah. Namun, ayahnya melarang, “Janganlah engkau pergi kepada Abu Hanifah. Ia bukan orang kaya, sedangkan engkau membutuhkan materi (untuk bekal belajar).”

Sejak itu Abu Yusuf mulai jarang menghadiri majelis Imam Abu Hanifah hingga beliau merasa kehilangan. Suatu saat Imam Abu Hanifah bertanya mengenai sebab ketidakhadiran Abu Yusuf di majelis. Abu Yusuf menjawab, “Aku sibuk bekerja dan menaati apa yang dikatakan orangtuaku.”

Mendengar itu, Imam Abu Hanifah memberikan sebuah kantong berisi 100 dirham (sekitar Rp 7.000.000,-), “Gunakan ini dan tetaplah mengikuti halaqah-ku. Jika uang itu telah habis, segera kabari aku.”

Akhirnya, Imam Abu Yusuf aktif kembali dalam halaqah. Imam Abu Hanifah terus secara rutin memberikan uang kepada Abu Yusuf dan tidak pernah terlambat. Itu beliau lakukan selama 29 tahun sampai Abu Yusuf memperoleh banyak ilmu dan juga materi (Al-Muwaffaq al-Khawarizmi, Manaqib Abi Hanifah, 1/469).

Imam Abdurrahman bin Husain ad-Dimasyqi adalah ulama besar Syam pengikut mazhab Syafii. Suatu saat, guru dari Al-Hafidz Ibnu Asakir ini diminta oleh Sultan untuk menjadi hakim, tetapi beliau menolak jabatan itu. Sultan terus meminta hingga beliau menyampaikan agar diberi kesempatan untuk melaksanakan shalat istikharah terlebih dulu.

Malam harinya beliau menghabiskan waktu di masjid untuk melakukan qiyamul layl dan terus-menerus menangis hingga fajar datang. Saat selesai shalat subuh dan kemudian terbit matahari, para utusan Sultan datang untuk meminta kejelasan. Namun, Imam Abdurrahman tetap menolak untuk diangkat menjadi hakim. Beliau bersama keluarganya memilih meninggalkan kampung menuju kota Halab.

Mengetahui hal itu, Sultan m eminta beliau untuk kembali dan tidak mendesak beliau lagi untuk menjadi hakim. Namun, Sultan meminta kepada Imam Abdurrahman untuk menunjuk orang lain sebagai hakim. Imam Abdurrahman akhirnya memilih Ibnu al-Harastani (Thabaqat asy-Syafi’iyah al-Kubra, 8/178).

Imam Abu Hanifah pernah menahan diri tidak memakan daging kambing, setelah mendengar bahwa ada seekor kambing dicuri. Ia melakukan itu selama beberapa tahun sesuai dengan usia kehidupan kambing pada umumnya hingga diperkirakan kambing itu telah mati (Ar-Rawdh al-Faiq, hlm. 215).

Imam al-Hulwani, ulama pengikut mazhab Hanafi yang menjadi imam besar di Bukhara, pernah berkata, “Sungguh, aku memperoleh ilmu ini dengan memuliakannya. Aku tidak mengambil catatan ilmu kecuali dalam keadaan suci.”

Murid beliau, yang juga seorang ulama besar, yakni Imam Syamsuddin as-Sirakhsi, suatu saat mengulang wudhu pada malam hari hingga 17 kali karena sakit perut. Hal itu beliau lakukan agar bisa menelaah ilmu dalam keadaan suci. (Mukhatsar al-Fawaid al-Makkiyah, hlm. 30).

*****

Beberapa fragmen di atas hanyalah secuil gambaran tentang bagaimana para ulama terdahulu dalam mempraktikkan adab atau akhlak mulia. Kebesaran dan keagungan mereka bukan semata-mata karena keluasan ilmu mereka, tetapi juga karena ketinggian adab dan akhlak mereka. Wajar saja, karena mereka memandang adab atau akhlak mulia sebagai perkara amat penting; bahkan lebih penting daripada ilmu.

Diriwayatkan, Imam Malik bin Anas menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk mempelajari adab (akhlak) dan 4 tahun untuk mencari ilmu.

Tentang pentingnya adab atau akhlak mulia, Imam Syafii pernah ditanya oleh seseorang, “Bagaimana Anda mempelajari adab?”

Imam Syafi’i menjawab, “Aku mempelajari adab seperti usaha seorang ibu yang mencari-cari anaknya yang hilang.” (Hasyim Asy’ari, Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, hlm. 10-11).

Imam Ibnu Qasim, salah satu murid senior Imam Malik menyatakan, “Aku telah mengabdi sekaligus belajar kepada Imam Malik bin Anas selama 20 tahun. Selama itu, 18 tahun aku mempelajari adab (akhlak), sisanya 2 tahun untuk mempelajari ilmu.” (Tanbih al-Mughtarrin, hlm. 12).

Lalu bagaimana dengan adab dan akhlak kita? Sudahkah kezuhudan, kewaraan, kemurahan dan kerendahan hati serta sifat-sifat mulia menghiasi ucapan dan tindakan keseharian kita?

‫وما توفيقي الا بالله

[Arief B. Iskandar]

ILMU DAN AKHLAK MULIA

Ilmu adalah harta yang amat berharga, bahkan lebih berharga daripada kekayaan berupa materi.

Paling tidak, begitulah di mata Qadhi Jalaluddin al-Qifthi. Beliau adalah ulama Halab yang memiliki perhatian besar terhadap kitab para ulama. Beliau gemar mengumpulkan kitab para ulama, terutama yang ditulis langsung oleh penulisnya. Tak aneh jika beliau pun menjadi rujukan para ulama pada zamannya.

Suatu saat Qadhi Jalaluddin memperoleh kitab Al-Ansab yang ditulis tangan oleh penulisnya sendiri, yakni Imam as-Sam’ani. Hanya saja, kitab yang diperoleh kurang satu jilid. Qadhi Jalaluddin terus berusaha mencari naskah yang satu jilid itu, namun gagal.

Setelah beberapa hari Qadhi Jalaluddin mulai berputus-asa. Namun, tak lama ada beberapa sahabat beliau menemukan lembaran kertas di pasar peci Kota Halab yang sama dengan naskah yang dimiliki Qadhi Jalaluddin. Mereka menyampaikan informasi itu kepada Qadhi Jalaluddin. Qadhi Jalaluddin pun mendatangi pasar itu. Ia menemui pembuat peci untuk bertanya mengenai kertas-kertas itu, yang ternyata merupakan bagian dari kitab as-Sam’ani yang ia cari-cari itu. Pembuat peci itu berkata, “Saya membeli ini bersama kertas-kertas lainnya, lalu saya jadikan lapisan peci.”

Mendengar jawaban pembuat peci itu, Qadhi Jalaluddin merasa sangat bersedih (I’lam an-Nubala, IV/426). Karena amat berharga, generasi Muslim pada masa lalu selalu memiliki hasrat yang tinggi untuk menguasai ilmu. Untuk itu, mereka senantiasa berupaya sungguh-sungguh dalam belajar. Terkait kesungguhan dalam belajar ini, Ja’far al-Maraghi mengisahkan:

Aku memasuki pemakaman di Tustar, lalu aku mendengar ada teriakan, “Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah; Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah,” terus diulang-ulang dalam waktu yang lama. Aku mencari tahu dari mana asal suara itu. Akhirnya, aku melihat Ibnu Zuhair sedang belajar sendiri menghapal hadits Al-A’masy.” (Al-Jami’ al-Akhlaq ar-Rawi, hlm. 407).

Kesungguhan dalam belajar juga ditunjukkan oleh Imam Abu Ishaq asy-Syiraji. Beliau adalah salah seorang ulama mazhab asy-Syafii yang terkenal dengan hapalannya yang kuat. Hal itu tidak mengherankan karena mujahadah Imam asy-Syirazi dalam belajar pun amat kuat. Mengenai mujahadah beliau dalam belajar, beliau pernah bertutur, “Aku biasa mengulangi setiap masalah qiyas sebanyak seribu kali. Jika aku selesai, aku menghapal qiyas yang lainnya. Demikianlah, aku mengulangi setiap palajaran seribu kali!” (Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra, IV/218).

*****

Selain membuat seseorang menjadi faqih, ilmu sejatinya melahirkan akhlak mulia. Para ulama terdahulu benar-benar telah membuktikan keduanya: faqih sekaligus berakhlak mulia.

Contohnya adalah Imam Abu Hanifah. Beliau memiliki murid bernama Imam Abu Yusuf. Suatu saat Imam Abu Yusuf menghadiri majelis ilmu Imam Abu Hanifah. Namun, ayahnya melarang, “Engkau tidak usah pergi kepada Abu Hanifah. Ia bukan orang kaya, sedangkan engkau membutuhkan bekal harta.”

Sejak itu Imam Abu Yusuf mulai jarang menghadiri majelis Imam Abu Hanifah. Imam Abu Hanifah pun merasa kehilangan. Suatu saat beliau bertanya mengenai seringnya Imam Abu Yusuf tidak hadir di majelis beliau. Imam Abu Yusuf menjawab, “Saya sibuk bekerja dan menaati apa yang dikatakan ayah saya.”

Mendengar itu Imam Abu Hanifah segera memberi Imam Abu Yusuf uang 100 dirham (kira-kira Rp 7 juta) seraya berkata, “Gunakan ini dan tetaplah mengikuti halaqah. Jika telah habis, sampaikan saja kepadaku.”

Akhirnya, Imam Abu Yusuf aktif kembali dalam halaqah. Imam Abu Hanifah pun terus memberi Imam Abu Yusuf uang dan tidak pernah terlambat. Hal itu terus berlangsung selama 29 tahun sampai Imam Abu Yusuf memperoleh banyak ilmu dan harta dari Imam Abu Hanifah (Muwaffaq al-Khawarizmi, Manaqib Abi Hanifah, 1/469).

Akhlak mulia juga ditunjukkan oleh Imam Abdurrahman. Salah seorang ulama mazhab Syafii ini terkenal dengan sifat wara’-nya. Khurrah binti Abdurrahman as-Sinjawi, istrinya, menyampaikan, bahwa suaminya pernah tidak makan nasi sekian lama. Pasalnya, penan aman padi membutuhkan banyak air. Saat itu, di wilayah tempat tinggalnya, yakni Marwa, air tidak banyak sehingga menjadi bahan rebutan. Akibatnya, banyak petani yang melakukan kezaliman terhadap petani lainnya demi memperoleh air untuk mengairi lahannya. Inilah yang menjadi alasan mengapa Imam Abdurrahman tidak makan nasi sekian lama (Lihat: Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra, V/102).

Akhlak mulia juga ditunjukkan oleh Syaikh ad-Damiri ad-Darini, juga salah seorang ulama besar mazhab Syafii. Suatu saat ulama yang hidup pada abad ke-8 Hijrah ini melakukan perjalanan di wilayah Mesir dengan mengenakan sorban yang telah usang yang telah berubah warnanya hingga terlihat kebiru-biruan, seperti warna sorban yang dipakai oleh para pendeta Qibthi (Kristen Koptik). Karena itulah ada seorang yang tertarik mendekati beliau untuk mendakwahi beliau. Ia menyuruh Syaikh ad-Damiri masuk Islam dan bersyahadat, “Katakanlah aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad Rasulullah.”

Tanpa sedikitpun tersinggung, apalagi marah, beliau segera mengucapkan kalimat syahadat. Kemudian orang itu berkata, “Pergilah kepada Qadhi untuk bersyahadat di hadapan beliau.”

Syaikh ad-Damiri pun pergi dengan diarak oleh banyak anak kecil di belakang beliau, sebagaimana yang biasa terjadi pada orang yang hendak masuk Islam.

Setelah Syaikh ad-Damiri sampai ke tempat Qadhi, sang Qadhi yang cukup mengenal Syaikh ad-Damiri pun terheran-heran, “Ada apa ini,wahai Syaikh?”

Syaikh ad-Darimi menjawab, “Dia menyuruh aku untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Aku pun mengucapkannya. Lalu dia menyuruh aku pergi menghadap Anda untuk mengucapkan kalimat syahadat di hadapan Anda. Karena itu aku pun datang kepada Anda.” (Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra, VIII/200).

Akhlak mulia pun ditunjukkan oleh Imam Asy-Sya’bi. Suatu saat beliau dicela oleh seseorang. Namun, beliau tidak risau apalagi marah. Beliau hanya menanggapi si pencela dengan berkata, “Jika aku seperti yang engkau katakan, semoga Allah mengampuni aku. Namun, jika aku tidak seperti yang engkau katakan, semoga Allah mengampuni engkau.” (Imam al-Mawardi, Adab ad-Dunya’ wa ad-Din, hlm. 216).

‫وما توفيقي الا بالله

[Arief B. Iskandar]

AGAR LISAN KITA MULIA

Salah satu nikmat terbesar bagi setiap manusia adalah lisannya. Tanpa lisan, manusia tak bisa berkata-kata. Sayang, tidak semua manusia memanfaatkan lisannya untuk hal-hal yang berguna. Tak sedikit mereka menggunakan lisannya untuk hal-hal yang sia-sia bahkan mengandung unsur dosa; berkata-kata kotor, keji, berdusta, menggunjing, memfitnah, bersumpah palsu, merayu wanita asing, dsb.

Padahal setiap orang yang dianugerahi nikmat, termasuk nikmat memiliki lisan, pasti akan dimintai pertanggung jawaban. Allah SWT berfirman:

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

Kemudian pasti kalian akan ditanya pada hari itu (Hari Kiamat) tentang nikmat (QS at-Takatstsur [102]: 8).

Karena itu sudah selayaknya setiap Muslim memperhatikan, menjaga dan memelihara lisannya. Hendaklah setiap Muslim hanya menggunakan lisannya untuk hal-hal yang bermanfaat dan mendatangkan pahala. Jika tidak sanggup, maka Baginda Rasulullah saw. telah memberikan pedoman, مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ Siapa saja yang mengimani Allah dan Hari Akhir, katakanlah yang baik atau diamlah).” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Karena itu, Ibn Abbas, sebagaimana dituturkan oleh Said bin Zubair, pernah suatu kali memegang lisannya seraya berkata, “Qul khayran taghnam aw ushmuth taslam qabla an tandam (Hai lisan! Katakanlah yang baik, niscaya kamu beruntung; atau diamlah, niscaya kamu selamat, sebelum kamu menyesal).” (Ahmad bin Hanbal, Fadhâ’il ash-Shahâbah, II,952).

Dalam riwayat lain, sebagaimana disebutkan oleh Said al-Jurairi, bahwa Ibn Abbas pernah berkata sambil memegang lisannya, “Celakalah kamu! Katakanlah yang baik, niscaya kamu beruntung. Diamlah dari berkata-kata buruk, niscaya kamu selamat.” Seseorang lalu berkomentar, “Mengapa Anda berkata demikian?” Ibn Abbas menjawab, “Karena saya pernah mendengar bahwa pada Hari Kiamat nanti, seorang hamba sangat membenci lisannya (karena keburukan lisannya saat di dunia, pen.).” (Al-Asbahani, Hilyah al-Awliyâ’, I/327, Al-Bayhaqi, Syu’ab al-Imân, 7/16).

Kata-kata Iabn Abbas ini selaras dengan sabda Baginda Rasulullah saw., إِنَّ أَكْثَرَ خَطَايَا ابْنِ آدَمَ فِي لِسَانِهِ “Sesungguhnya kesalahan manusia yang paling banyak bersumber dari lisannya).” (Ath-Thabrani, Mu’jam al-Kabîr, X/197)

Karena itulah, agar lisan kita mulia dan jauh dari kehinaan di dunia maupun di akhirat, setidaknya ada tiga hal yang perlu dilakukan. Pertama: Lisan kita banyak digunakan untuk berzikir kepada Allah SWT. Saat Muadz bin Jabbal bertanya kepada Nabi saw., “Wahai Rasulullah, amal apa yang paling utama?” Beliau menjawab, “Lisanmu senantiasa basah karena selalu berzikir kepada Allah.” (Ibn al-Mubarak, Az-Zuhd wa ar-Raqa’iq, I/328).

Seorang Arab pedalaman juga pernah bertanya kepada Rasulullah saw., “Sesungguhnya bagi saya syariah Islam itu banyak jumlahnya. Adakah satu saja yang bisa menghimpun semuanya?” Beliau menjawab, “Lisanmu selalu basah karena senantiasa banyak berzikir kepada Allah.” (HR ath-Thabrani).

Kedua: lisan kita digunakan untuk banyak memberikan nasihat kepada sesama. Sebab, sabda Nabi saw., الدين النصيحة “(Agama adalah nasihat).” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Nabi saw. juga bersabda, أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةُ اللِّسَانِ “Sedekah yang paling utama adalah sedekah lisan.” (Asy-Suyuthi, Al-Jâmi’ ash-Shaghîr, I/91). Yang dimaksud di antaranya adalah lisan yang mengandung hidayah yang bisa menyelamatkan penuturnya dan orang lain di akhirat (Al-Munawi, Faydh al-Qadîr, 8/102).

Ketiga: Lisan kita digunakan untuk dakwah dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Lisan yang mengandung unsur dakwah adalah lisan terbaik dalam pandangan Allah SWT, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): Siapakah yang lebih baik ucapan (lisan)-nya dibandingkan dengan orang yang berdakwah (menyeru manusia) kepada Allah, beramal shalih dan berkata, “Sesungguhnya aku adalah bagian dari kaum Muslim.” (TQS Fushilat [41] 33).

Demikian pula lisan yang digunakan untuk melakukan amar makruf nahi mungkar, apalagi terhadap para penguasa zalim. Rasulullah saw. bersabda, أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ “Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kata-kata kebenaran di hadapan penguasa zalim.” (HR ath-Thabrani, al-Baihaqi dan al-Hakim). Dengan itulah, di antaranya, lisan kita akan menjadi mulia, di dunia maupun di akhirat.

Semua hal yang berkaitan dengan lisan ini berlaku pula untuk tulisan (seperti yang banyak dilakukan oleh banyak orang di media sosial (facebook, BBM, WA, Telegram, dll) akhir-akhir ini. Sebab, sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama,الكتابة في محل المقالة “Tulisan itu sama kedudukannya dengan ucapan (lisan).” Karena itu tulisan kita pun, sebagaimana lisan kita, bisa menjadikan kita mulia atau hina, di dunia maupun di akhirat. Semua itu bergantung pada apakah dalam lisan dan tulisan kita terkandung usur zikir kepada Allah SWT, nasihat, dakwah dan amar makruf nahi mungkar ataukah tidak.

‫وما توفيقي الا بالله

[Arief B. Iskandar]