Posts

UMAR BIN ABDUL AZIZ

Nama lengkapnya adalah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam bin Abu al-‘Ash bin Umayah bin Abdu Syam bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab. Ia keturunan Bani Umayah, berdarah Quraisy. Ia lahir pada tahun 61 H/682 M di Madinah (Tadzkirah al-Huffâzh, 1/118-120).

Umar bin Abdul Aziz sejak kecil mencintai ilmu dan sering menghadiri  majelis para ulama. Madinah pada zamannya adalah kota yang gemerlap dengan kebaikan dari ilmu para ulama, fuqaha dan orang-orang salih. Yang pertama kali ia pelajari dari para ulama adalah adab  (Ibn Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, 12/679).

Ia hapal al-Quran sejak masih kecil. Al-Quran membimbing dirinya hingga menjadi orang bersih. Sungguh membekas semua pelajaran dalam al-Quran yang ia pelajari. Ia sangat takut jika mendengar kematian sehingga ia sering menangis (Ibn Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, 12/678).

Umar bin Abdil Aziz memiliki 33 guru. Delapan di antaranya adalah para Sahabat dan 25 lainnya dari kalangan Tâbiîn (Musnad Amîr al-Muminîn Umar ibn  Abd al-Azîz, hlm. 33).

Ia pernah duduk bersama Abu Hurairah ra. Karena itu ia banyak meriwayatkan hadits dari jalur Abu Hurairah ra. (Afz-Dzahabi, Siyar Alam an-Nubalâ, 4/47).

Tentang sosoknya yang agung ini, Al-Hafizh al-Imam adz-Dzahabi antara lain berkata, “Umar bin Abdul Aziz adalah al-Imam al-Hafidz al-Allamah al-Mujtahid az-Zahid al-Abid, as-Sayyid Amirul Muminin haqq[an].” (Adz-Dzahabi, Siyar Alam an-Nubalâ 5/136, 120, 114, 144).

Umar bin Abdul Aziz adalah sosok yang berkepribadian kuat, bermental baja, mampu mencarikan solusi terbaik dari setiap problem yang ada dan memiliki analisis yang tajam. Di antara karakteristik yang ia milikinya antara lain: rasa takut yang tinggi kepada Allah SWT. Pernah seorang laki-laki mengunjungi Umar bin Abdul Aziz yang sedang memegang lentera. “Berilah aku petuah!” Umar membuka perbincangan. Laki-laki itu pun berujar, “Amirul Mukminin! Jika engkau masuk neraka, orang yang masuk surga tidaklah mungkin bisa memberi engkau manfaat… ” Serta-merta Umar bin Abdul Aziz pun menangis tersedu-sedu hingga lentera yang ada di genggamannya padam karena derasnya air mata yang membasahi (Ibn al-Jauzi, Sîrah wa Manâqib Umar ibn Abd al-Azîz, hlm. 164).

Umar bin Abdul Aziz adalah seorang yang wara. Di antara sikap wara-nya adalah keengganannya menggunakan fasilitas negara untuk keperluan pribadi meskipun sekadar mencium bau aroma minyak wangi. Hal itu pernah ditanyakan oleh pembantunya, “Wahai Khalifah! Bukankah itu sekadar aroma saja, tidak lebih?” Beliau menjawab, “Bukankah minyak wangi itu diambil manfaatnya karena aromanya?” (Ibn al-Jauzi, Sîrah wa Manâqib Umar ibn  Abdul Azîz, hlm. 192).

Umar bin Abdul Aziz pun sangat amanah dalam menggunakan fasilitas dan uang negara serta harta kaum Muslim. Ia biasa menggunakan lampu negara saat mengurus urusan kaum Muslim. Setelah selesai, ia segera memadamkan lampu tersebut, lalu menggunakan lampu pribadi (Atsar al-Waradah fî Umar ibn Abd al-Azîz fî al-Aqîdah 1/164).

Umar bin Abdul Aziz juga adalah orang yang sangat zuhud. Kezuhudannya justr mencapai level tertinggi saat ‘puncak dunia’ berada di genggamannya. Ia meninggalkan semua perkara yang tidak bermanfaat untuk akhiratnya (Atsar al-Waradah fî Umar ibn Abdul Aziz fî al-Aqîdah, 1/146).

Imam Malik bin Dinar berkata, “Orang-orang berkomentar tentang aku, Malik bin Dinar adalah orang zuhud. Padahal yang pantas dikatakan zuhud hanyalah Umar bin Abdul Aziz. Dunia mendatangi dirinya. Namun, dunia itu ia tinggalkan.” (Ibn Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, 12/699; Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubalâ, 5/134).

Sebelum beliau berkuasa menjadi khalifah, beliau menjual kekayaannya. Lalu uangnya dimasukkan ke Kas Negara (Atsar al-Waradah fî Umar bin Abdul Azîz fî al-Aqîdah, 1/155).

Begitu sederhana dan zuhudnya, Umar bin Abdul Aziz pernah tidak mampu pergi berhaji gara-gara tak cukup memiliki biaya (Shalabi, Al-Khalîfah ar-Rasyîd wa al-Muslih al-Kabîr Umar ibn Abd al-Azîz, hlm. 70).

Umar bin Abdul Aziz pun memiliki akhlak yang luhur. Di antaranya adalah sikap tawaduk (rendah hati). Imam Ibnu Abdil Hakam berkata, “Di antara sifat tawaduknya adalah ia melarang orang-orang berdiri untuk sekadar menyambut kedatangannya.” (Ibn al-Hakam, Sîrah Umar ibn Abd al-Azîz, hlm. 34-35).

Sebagai khalifah, Umar bin Abdul Aziz adalah pemimpin yang adil. Bahkan keadilannya adalah di antara sifat yang paling menonjol. Penduduk Himsh, misalnya, pernah mendatangi Khalifah Umar bin Abdul Aziz seraya mengadu, “Amirul Mukminin, saya ingin diberi keputusan sesuai dengan hukum Allah.” Ia bertanya, “Apa yang engkau maksud?” Orang itu berkata lagi, “Abbas bin Walid bin Abdul Malik telah merampas tanahku.” Saat itu Abbas sedang duduk di samping Umar bin Abdul Aziz. Khalifah Umar lalu bertanya kepada Abbas, “Apa komentarmu?” Abbas menjawab, “Aku terpaksa melakukan itu karena mendapat perintah langsung dari ayahku, Walid bin Abdul Malik.” Mendengar itu, serta-merta Khalifah Umar ra. berkata, “Hukum Allah lebih berhak untuk ditegakkan daripada hukum Walid bin Abdul Malik.” Ia lalu memerintahkan Abbas untuk mengembalikan tanah yang telah dia rampas (Shalabi ,Al-Khalîfah ar-Rasyîd wa al-Muslih al-Kabîr Umar ibn Abd al-Azîz, hlm. 78.).Umar bin Abdul Aziz wafat pada Hari Jumat di penghujung bulan Rajab tahun 101 H pada usia 40 tahun. Ia wafat setelah memegang tampuk Kekhilafahan selama kurang lebih dua tahun (Ibn Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, 12/719; Ibn Hajar, Tahdzîb at Tahdzîb, VII/475).

Ia wafat dengan meninggalkan tiga orang istri, 14 anak laki-laki dan tiga anak perempuan (Ibn al-Jauzi, Sîrah wa Manâqib Umar ibn  Abd al-Azîz, hlm. 314-315).

Ia wafat meninggalkan warisan hanya 17 dinar (sekitar Rp 35 juta). Harta itu lalu digunakan untuk membiayai pengurusan dan penguburan jenazahnya sebesar 7 dinar (sekitar Rp 15 juta). Yang tersisa dibagikan kepada semua ahli warisnya. Masing-masing dari mereka ada yang hanya mendapat 19 dirham (sekitar Rp 1,2 juta) saja. Padahal saat itu Khalifah Umar sanggup menggaji seorang gubernur sebesar 3 ribu dinar (sekitar Rp 6 miliar).

Namun demikian, meski untuk keluarganya  meninggalkan warisan yang sedikit, ia meninggalkan Kekhilafahan Islam yang seluruh warganya merasakan kekayaan, kemakmuran dan kesejahteraan luar biasa sehingga pada zamannya tak ada seorang pun yang mau menerima zakat!

وما توفيقي إلا بالله عليه توكلت وإليه أنيب

[Arief B. Iskandar]

SUFYAN BIN UYAINAH

Nama lengkapnya adalah Abu Muhammad Sufyan bin Uyainah bin Abi Imran Maimun al-Hilli al-Kufi. Ia lahir Kufah (Irak) pada tahun 107 H (Al-Muzzi, Tahdzîb al-Kamâl, 11/177-178).

Sebagaimana kebiasaan ulama dulu, sejak kecil Sufyan bin Uyainah telah mempelajari agama, di antaranya mempelajari dan menghapal banyak hadits. Tentang ini, Adz-Dzahabi berkata, “Sufyan bin Uyainah banyak menghimpun hadits-hadits para ulama di Irak dan di Hijaz. Ia juga melakukan rihlah untuk berguru kepada banyak ulama yang tidak dijumpai Imam Malik. Keduanya, Imam Malik dan Sufyan bin Uyainah, adalah ulama yang setingkat dalam kadar mutqin-nya.”

Di antara guru-gurunya yang terkenal adalah ‘Amr bin Dinar, Ziyad bin ‘Ilaqah, Aswad bin Qais, Ibnu Syihab az-Zuhri, Abdullah bin Dinar, Zaid bin Aslam, Ibnu Abi Layla serta  puluhan ulama terkemuka lainnya.

Karena belajar agama sejak kecil dan berguru kepada banyak ulama besar, tidak aneh jika kemudian Sufyan bin Uyainah pun menjelma menjadi ulama terkemuka yang didatangi banyak murid. Di antara murid-muridnya adalah: Al-A’masi, Ibnu Juraij, Syu’bah, Hamam bin Yahya, Muhammad ibnu Ashim ats-Tsaqafi dan masih banyak yang lainnya (Adz-Dzahabi, Tahdzîb at-Tahdzîb, 4/104).

Karena keluasan ilmunya, Sufyan bin Uyainah disanjung oleh banyak ulama. Imam Syafii, misalnya, pernah berkomentar, “Kalau bukan karena Malik dan Sufyan bin Uyainah, sungguh akan hilang ilmu di Negeri Hijaz.” (Târîkh al-Kamâl, 11/189).

Imam Syafii, sebagaimana dituturkan oleh Harmalah bin Yahya, juga pernah berkomentar, “Aku belum pernah melihat orang yang memiliki piranti ilmu dan lebih komplit ketika memberikan fatwa sebagaimana Sufyan bin Uyainah.”

Imam Syafii juga berkata, “Aku mengetahui bahwa Sufyan bin Uyainah memiliki hadits-hadits tentang hukum secara keseluruhan kecuali enam hadits saja. Kutemukan juga hadits-hadits tentang hukum-hukum itu dimiliki oleh Imam Malik kecuali 30 hadits saja.” (Tadzkirah al-Kamal, 11/190).

Artinya, Sufyan bin Uyainah lebih banyak menguasai hadits hukum daripada Imam Malik.

Tentang penguasaan Sufyan bin Uyainah atas hadits, Ahmad bin ‘Abdillah al-Ajali berkomentar, “Sufyan bin Uyainah sangat hapal banyak hadits. Ia menghapal sekitar 7.000-an hadits dan tidak menuliskan hadits-hadits itu dalam sebuah buku.”

Abdurrahman bin Mahdi juga menegaskan, “Ibnu Uyainah adalah orang yang paling mengetahui hadits di Hijaz.” (Adz-Dzhabi, Siyar A’lâm an-Nubalâ’, 11/457-458).

Imam Ahmad juga berkata, “Aku belum pernah melihat ada orang yang lebih pandai dalam bidang hadits melebihi Ibnu ‘Uyainah.” (Adz-Dzahabi, Târîkh al-Islâm, 13/193).

Bukan hanya menguasai dan menghapal banyak hadits, Sufyan bin Uyainah juga sangat teguh dalam mengamalkannya. Tentang ini Adz-Dzahabi berkomentar, “Sufyan bin Uyainah adalah seorang ulama ahli hadits yang mengamalkan hadits-haditsnya.” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lâm an-Nubalâ’, 8/446).

Tidak aneh, Sufyan ats-Tsauri, saat ditanya tentang Sufyan bin Uyainah, ia menjawab, “Ibnu Uyainah adalah salah seorang yang sudah tidak asing lagi.” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubalâ’, 8/461).

Bahz bin Assad menambahkan, “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang semisal dengan Sufyan bin Uyainah.” Lalu ia ditanya, “Bagaimana dengan Syu’bah?” Ia menjawab, “Tidak juga dengan Syu’bah.” (Syu’bah adalah salah seorang guru Sufyan bin Uyainah).” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lâm an-Nubalâ’, 8/455).

Abu Nuaim juga berkata, ”Di antara imam yang terpercaya, berakal cerdas, mampu meng-istinbath hukum  dan mengorelasikan hukum-hukum tersebut adalah Sufyan bin ‘Uyainah. Dia seorang ulama intelek serta kritikus yang zuhud dan ahli ibadah. Keilmuan dan kezuhudannya sudah mashyur di kalangan Ulama.” (Abu Nu’aim al-Asbahani, Hilyah al-Awliyâ’, 7/270).

Sebagai salah seorang ulama ahli hadits terkemuka, tentu banyak hikmah yang keluar dari lisannya yang mulia. Secuil di antara mutiara hikmahnya dinukil oleh Muhammad bin Maimun al-Khayyath yang pernah mendengar Sufyan bin Uyainah berkata, “Jika waktu siangku adalah ketololan dan waktu malamku adalah kebodohan, lalu apa gunanya ilmu yang telah aku kumpulkan selama ini?”

Ibrahim al-Jauhari juga pernah mendengar Ibnu Uyainah berkata, “Ulama yang memelihara ilmunya adalah yang mengamalkan ilmunya.”

Sayyid bin Dawud juga pernah mendengar Ibnu Uyainah bertutur, “Siapa saja yang bermaksiat karena mengikuti syahwat, segeralah bertobat. Ketahuilah, Adam berbuat durhaka karena terbujuk keinginan. Namun, dengan tobat, akhirnya Allah SWT mengampuninya. Akan tetapi, bermaksiat karena sombong bisa jadi pelakunya terlaknat. Ketahuilah, iblis durhaka karena kesombongannya sehingga dia dilaknat.” (Abu Nu’aim al-Asbahani, Hilyah al-Awliyâ’, 7/271-272).

Abu Ma’mar juga pernah mendengar Sufyan bin Uyainah berkata, “Bukanlah ulama itu orang yang hanya mengetahui kebaikan dan keburukan. Akan tetapi, ulama itu adalah orang mengetahui suatu kebaikan, lalu ia amalkan; yang mengetahui suatu keburukan, lalu ia tinggalkan.” (Abu Nu’aim al-Asbahani, Hilyah al-Awliyâ’, 7/274).

Sufyan bin Uyainah tidak pernah ketinggalan shalat di masjid. Ia bahkan biasa hadir di masjid sebelum azan dikumandangkan. Tentang ini, Abu Musa al-Anshari  pernah mendengar Sufyan bin Uyainah berkata, “Janganlah kamu seperti orang yang berkelakuan buruk, yaitu orang yang tidak mau datang ke masjid untuk menunaikan shalat kecuali setelah iqamat dikumandangkan. Akan tetapi, datanglah ke masjid untuk menunaikan shalat sebelum azan dikumandangkan.”

Dalam pandangan Sufyan bin Uyainah, kehadiran di masjid sebelum azan dikumandangkan untuk shalat berjamaah adalah sebagai bentuk penghormatan terhadap ibadah shalat. Tentang ini Abu Musa al-Anshari pernah mendengar Sufyan bin Uyainah berkata, “Di antara tanda-tanda orang yang menghormati shalat adalah mendatangi masjid untuk menunaikan shalat berjamaah sebelum azan diperdengarkan.” (Abu Nu’aim al-Asbahani, Hilyah al-Awliyâ’, 7/284-285).

Sufyan bin Uyainah wafat pada usia 91 tahun, tepatnya pada bulan Sya’ban tahun 198 H (Adz-Dzahabi, Siyar A’lâm an-Nubalâ’, 8/454-474).

Semoga segala kemuliaan dan ketamaannya bisa kita teladani sepenuhnya.

وما توفيقي إلا بالله عليه توكلت وإليه أنيب

[Arief B. Iskandar]

MUHAMMAD BIN SIRIN

Muhammad bin Sirin dilahirkan di Basrah tahun 33 H. Ia adalah maula Anas bin Malik. Ia pernah bertemu dengan 30 orang Sahabat Nabi saw.

Muhammad bin Jarir ath-Thabari berkata, “Ibnu Sirin adalah seorang ulama yang sangat fakih, ‘alim, wara’, berakhlak tinggi dan memiliki banyak hadits yang dipersaksikan oleh para ahlul ilmi dan kemuliaan.” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 4/601). Hal sama dikemukan oleh Ibnu Saad.

Tentang kefakihannya Ibnu Sirin, Utsman al-Bhitti berkata. “Tidak ada di Kota Bashrah seorang pun yang paling memahami putusan hukum syariah selain Muhammad bin Sirin.” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, 4/6o8).

Bahkan Ibnu Yunus berkata, “Ibnu Sirin lebih pandai daripada Al-Hasan a-Bashri dalam berbagai hal.”

Ibn Sirin juga ahli ibadah. Ia selalu melakukan puasa Dawud (Ibn Saad, Ath-Thabaqat al-Kubra, 7/200).

Ia pun selalu banyak berzikir mengingat Allah SWT. Abu Awanah mengatakan, “Tak seorang pun melihat Ibn Sirin tanpa sedang berzikir kepada Allah SWT.” (Ibnu Hajar Asqalani, Tahdzib at-Tahdzib, 9/241).

Terkait kewaraannya, Bakr bin Abdillah al-Muzani berkata, “Siapa ingin melihat seorang yang paling wara’ yang pernah aku jumpai, lihatlah Muhammad bin Sirin”. (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’ 4/614).

Al-Khathib al-Baghdadi juga berkomentar, “Muhammad bin Sirin adalah seorang ulama yang dikenal kewaraannya pada zamannya.”  (Al-Baghdadi, Tarikh Baghdad, 5/300).

Terkait itu, Gubernur Irak pada zamannya, misalnya, pernah hendak memberikan uang kepada dirinya sebesar 40 ribu dirham (sekitar Rp 2,8 miliar). Namun, Ibn Sirin menolak. Keponakannya merasa heran, mengapa ia harus menolak pemberian itu. Ia mengingatkan keponakannya seraya berkata, “Ketahuilah, dia memberi aku hadiah karena dia menyangka aku ini orang baik. Kalau aku baik maka aku tidak pantas untuk menerima uang itu. Sebaliknya, jika aku tidak sebaik yang ia sangka, lebih tidak pantas lagi aku mengambil hadiah itu.” (Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, Shuwaru min Hayati at-Tabi’in).

Dalam keseharian, Muhammad bin Sirin membagi waktunya untuk melakukan tiga aktivitas: beribadah, mencari ilmu dan berdagang. Sebelum subuh sampai waktu dhuha ia berada di Masjid al-Basrah. Di sana ia belajar dan mengajar berbagai pengetahuan Islam. Setelah dhuha hingga sore hari ia berdagang di pasar. Ketika berdagang ia selalu menghidupkan suasana ibadah dengan senantiasa melakukan zikir dan amar makruf nahi munkar. Malam harinya ia khususkan untuk bermunajat kepada Allah SWT.

Dalam menggeluti dunia perdagangan, ia sangat berhati-hati sekali. Ia khawatir kalau-kalau terjebak ke dalam masalah yang haram.

Suatu ketika, ada seseorang menagih hutang kepadanya sebanyak dua dirham. Ia sendiri tidak merasa berhutang. Orang tersebut tetap bersikukuh dengan tuduhannya. Dengan penuh paksa, ia meminta Muhammad bin Sirin untuk melakukan sumpah. Ketika ia hendak bersumpah, banyak orang yang merasa heran mengapa ia menuruti kemauan si penuduh itu. Salah seorang rekan Muhammad bin Sirin bertanya, “Syaikh, mengapa Anda mau bersumpah hanya untuk masalah sepele, dua keping dirham, padahal baru saja kemarin Anda telah merelakan 30 ribu dirham untuk diinfakkan kepada orang lain.”

Lantas Muhammad bin Sirin menjawab, “Iya, saya bersumpah karena saya tahu bahwa orang itu memang telah berdusta. Jika saya tidak bersumpah, berarti ia akan memakan barang yang haram.”

Terkait keberaniannya dalam menentang kemungkaran, Ibn Sirin pernah dipanggil oleh Gubernur Irak, Umar bin Hubairah. Gubernur menyambut kedatangannya dengan meriah. Setelah berbasa-basi sejenak, sang gubernur bertanya kepada, “Bagaimana pendapat Syaikh tentang kehidupan di negeri ini?”

Tanpa basa-basi, Ibn Sirin menjawab, “Kezaliman hampir merata di negeri ini. Saya melihat Anda selaku pemimpin kurang perhatian terhadap rakyat kecil.”

Belum lagi Muhammad bin Sirin selesai berbicara, keponakannya yang juga ikut ke istana gubernur mencubit lengan Muhammad bin Sirin agar ia menghentikan kritikan pedasnya kepada sang gubernur. Dengan tegas ia berkata kepada keponakannya itu, “Diamlah engkau! Kalau saya tidak mengkritik gubernur, nanti sayalah yang akan ditanya di akhirat. Apa yang saya lakukan merupakan persaksian dan amanah umat. Siapa saja yang menyembunyikan amanah ini, niscaya ia berdosa.” (Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, Shuwar min Hayah at-Tabi’in).

Kelebihan lainnya yang ada pada diri Ibnu Sirin adalah akhlak mulia yang senantiasa menghiasi kehidupannya. Ibnu Auf menuturkan, jika ada orang-orang yang menyebutkan kejelekan seseorang di hadapan Ibnu Sirin, maka ia justru menyebutkan hal terbaik dari orang itu yang ia ketahui.

Terkait akhlaknya pula, Hafshah binti Sirin mengatakan, “Aku tidak pernah melihat Muhamad bin Sirin bersuara keras di hadapan ibunya. Jika ia berkata-kata dengan ibunya, ia seperti seorang yang berbisik-bisik (sangat lembut) (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’).

Salah satu nasihat emas Muhammad bin Sirin yang sering dinukilkan oleh para ulama adalah ucapannya, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Karena itu perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”

Muhammad bin Sirin meninggal dalam usia 77 tahun di Bashrah, seratus hari setelah Hasan al-Bashri wafat, yakni tahun 110 H.

وما توفيقي إلا بالله عليه توكلت وإليه أنيب

[Arief B. Iskandar]

IMAM WAKI

Sosok masyhur dengan panggilan Imam Waki ini memiliki nama asli Abu Sufyan Waki bin al-Jarrah ar-Ruwassi al-Kufi. Ia adalah sosok imam, al-hâfizh dengan hapalan yang sangat kuat, sekaligus ahli hadits yang sangat terkenal dari negeri Irak. Menurut Ahmad bin Hanbal, Waki bin al-Jarrah lahir pada tahun 129 H (At-Târikh al-Kabîr, 8/179).

Menurut Imam adz-Dzahabi, Waki telah aktif menimba ilmu sejak usia dini dan telah mulai mengajarkan ilmu hadits pada usia 30 tahun. Selama hampir 40 tahun Imam Waki menjadi tujuan para pencari ilmu dari berbagai penjuru negeri.

Tentang kekuatan hapalannya, Imam Ishaq bin Rahawaih berkata, “Hapalanku dan hapalan Ibn al-Mubarak berat dan betul-betul diupayakan. Adapun hapalan Waki adalah murni. Satu kali berdiri ia bisa menyampaikan 700 hadits murni hanya dengan mengandalkan hapalannya.” (Al-Jarh wa at-Tadîl, 1/221).

Imam Ahmad bin Hanbal pun mengakui, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih kuat hapalannya daripada Waki dan tidak ada yang sebanding dengan dia dalam hal ibadahnya.” (Al-Jarh wa at-Tadîl, 1/219).

Imam Ahmad juga berkisah, “Aku tidak pernah melihat Waki membawa kitab (saat mengajar).”

Hal senada dinyatakan oleh Ali ibn Hasyram, “Aku belum pernah melihat Waki membawa kitab di tangannya. Ia selalu mengandalkan hapalannya.”

Hal senada dinyatakan oleh Yahya bin Muin, “Tidaklah aku melihat ada seorang pun yang lebih kuat hapalannya daripada Waki.”

Karena itu, kata Yahya bin Muin, “Aku tidak melihat ulama yang lebih utama ketimbang Waki bin al-Jarrah.” (Al-Mustafâd min Dzayl Târîkh Baghdâd, 2/104).

Imam adz-Dzahabi juga memuji Waki, “Ia adalah seorang imam, al-hâfizh, periwayat yang kokoh, ahli hadits dari Irak dan imam panutan di kalangan para ulama.”

Mengapa Imam Waki begitu kuat hapalannya? Salah satu rahasianya diungkap oleh pernyataannya sendiri. Suatu saat ada orang yang bertanya kepada Waki tentang obat apakah yang bisa memperkuat hapalan, ia menjawab, “Jika aku ajarkan kepada engkau, maukah engkau amalkan?” Orang itu menjawab, “Ya, demi Allah.” Kata Waki, “Tinggalkan maksiat! Tak ada obat yang mujarab semisal itu.” (“Mukadimah” tahqîq kitab Az-Zuhd karya Imam Waki, hlm. 13-69).

Imam Syafii juga pernah berkisah, “Aku pernah mengadukan kepada Waki tentang jeleknya hapalanku. Lalu beliau menunjuki aku agar meninggalkan maksiat. Ia memberitahu aku bahwa ilmu adalah cahaya Allah, sementara cahaya-Nya tidak mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (Iânah ath-Thâlibîn, 2/190).

Padahal Imam Syafii adalah orang yang juga kuat hapalannya. Imam Syafii pernah berkata, “Aku telah hapal al-Quran saat umur 7 tahun. Aku pun telah hapal Kitab Al-Muwatha (karya Imam Malik) saat umur 10 tahun. Saat berusia 15 tahun, aku pun sudah berfatwa.” (Tharh at-Tatsrîb, 1/95-96).

Lalu mengapa hapalan Imam Syafii bisa terganggu? Saat itu Imam Syafii mengadu kepada gurunya, Imam Waki, “Aku tidak dapat mengulangi hapalanku dengan cepat. Apa sebabnya?” Imam Waki berkata, “Engkau pasti pernah melakukan suatu dosa. Cobalah engkau renungkan!”

Imam Syafii pun merenung, apa kira-kira dosa yang telah ia perbuat? Ia  pun teringat bahwa pernah suatu saat melihat tanpa sengaja betis seorang wanita yang tersingkap saat wanita itu sedang menaiki kendaraannya. Imam Syafii pun segera memalingkan wajahnya.

*****

Imam Waki juga dikenal dengan kekhusyukan dan kesungguhannya dalam beribadah. Di antara perkara yang sangat ia perhatikan adalah shalat. Ia berkata, “Siapa yang tidak mendapati takbir pertama (bersama imam dalam shalat berjamaah di masjid, pen.), janganlah terlalu berharap tentang kebaikan dirinya.” (Al-Baihaqi, Syuab al-Imân, 3/74).

Kata Ibrahim bin Syammas,  Waqi bin Jarrah juga pernah berkata, “Siapa saja yang tidak bersiap-siap (untuk shalat berjamaah di masjid, pen.) saat  waktu shalat hampir tiba, ia berarti tidak memuliakan shalat.”

Namun demikian, meski amat banyak melakukan ibadah, Imam Waki memandang bahwa mengajarkan hadits lebih utama daripada ibadah-ibadah sunnah.  “Andai shalat (sunnah) itu lebih utama daripada mengajarkan hadits, niscaya aku tidak akan pernah mengajarkan h adis.”

Ia juga berkata, “Kalau bukan karena mengingat besarnya keutamaan shalawat kepada Nabi saw., niscaya aku tidak akan mengajarkan hadits.”

Imam Waki pun sangat menjaga lisannya. Imam Ahmad berkata, “Ia tidak pernah membicarakan orang lain.”

Imam Waki juga sosok yang tidak suka meminta-minta kepada manusia. Waki. Ia pun tidak suka dengan popularitas. Ia tidak senang orang lain mengetahui shalat, puasa, atau ibadah yang ia lakukan.

Ada satu kisah menarik terkait Imam Waki, sebagaimana dituturkan oleh Said bin Manshur: Saat Waqi datang ke Makkah dan tubuhnya terlihat gemuk, Fudhail bin Iyadh berkata kepadanya, “Bagaimana Anda bisa gemuk, sedangkan Anda adalah tokoh ulama penduduk Irak?” Imam Waki menjawab, “Semua ini karena kegembiraanku terhadap Islam.”

Pada dasarnya Waqi bin Jarrah adalah sosok ulama yang amat zuhud. Tentang zuhud, ia berkata, “Jika seseorang meninggalkan urusan keduniawian tidak sampai taraf para Sahabat seperti Salman, Abu Dzarr, dll maka aku tidak mengatakan bahwa ia adalah seorang yang zuhud…Bagiku di dunia  ini ada yang halal, haram dan syubhat. Yang halal akan dihisab, yang syubhat akan dicela. Oleh karena itu posisikan dunia ini seperti bangkai. Ambilah dari dunia ini untuk sekadar membuatmu bertahan hidup.” (An-Nawawi, Tahdzîb al-Asmâ, 11/123, Ibn Hajar al-Asqalani, Tahdzîb at-Tahdzîb, 11/144).

Imam Waki meninggal saat menunaikan ibadah haji pada tahun 197 H. Menurut adz-Dzahabi, “Waqi meninggal dalam usia 68 tahun kurang satu atau dua bulan.” (Syaikh Ahmad Farid, Min Alami Salaf, hlm. 53-69).

وما توفيقي إلا بالله عليه توكلت وإليه أنيب

[Arief B. Iskandar]

IMAM MALIK BIN ANAS

Imam Malik ra. lahir pada tahun 93 H di Kota Madinah Munawarah. Imam Malik menghapal al-Quran al-Karim sejak dini sebagaimana kebiasaan keluarga Muslim pada zamannya. Lalu ia menghapal hadits. Saat ia mengutarakan keinginannya kepada ibunya untuk mencari ilmu, ibunya memakaikan kepadanya pakaian yang paling bagus, dengan surban di kepalanya. Lalu ibunya berkata, “Pergilah ke Rabi’ah dan belajarlah adab (akhlak) sebelum ilmunya.” (Qadhi ‘Iyad, Al-Madarik, hlm. 115; Muhammad Ahmad al-Muqaddam, Awdah al-Hijâb II/207).

Imam Malik pernah ber-mulâzamah (belajar terus-menerus) kepada Ibnu Hurmuz selama tujuh tahun sejak awal masa pertumbuhannya. Ia pernah mendengar Ibnu Hurmuz berkata, “Sudah sepantasnya seorang ‘âlim mewariskan kepada para murid-muridnya perkataan, ‘Saya tidak tahu.’”

Karena itulah, menurut Ibnu Wahab, saat banyak pertanyaan ditanyakan kepada Imam Malik, ia tidak malu untuk berkata, “Saya tidak tahu.”

Imam Malik adalah orang yang sangat memperhatikan adab saat menghadap guru-gurunya. Ia pernah ber-mulâzamah kepada Nafi’, pembantu Ibnu Umar, dan berkata, “Saya mendatangi Nafi’ pada tengah hari. Saya tidak dinaungi pepohonan dari sengatan matahari. Saya menunggu lama keluarnya beliau. Saat beliau keluar, saya biarkan dulu beberapa saat seakan saya tidak melihat beliau. Kemudian saya menemui beliau, mengucapkan salam kepada beliau dan membiarkan beliau sampai beliau masuk. Baru saya berkata, ‘Bagaimana perkataan Ibnu Umar tentang masalah ini dan itu?’ Seraya beliau menjawab, saya serius mendengarkan.” (Ibn Farhun, Ad-Dibâj al-Madzhab fî Ma’rifah A’yân Ulamâ’ al-Madzhab, hlm. 117).

Setelah Imam Malik menyempurnakan belajarnya tentang atsar (hadits) dan fatwa, ia mulai mengajar di Masjid Nabawi untuk mengamalkan ilmunya pada umur 17 tahun. Terkait itu, Imam Malik ra. pernah berkata, “Tidaklah saya berfatwa kecuali disaksikan oleh 70 masyayikh dari kalangan para ulama bahwa saya berhak untuk itu.” (Al-Madârik, hlm. 127).

Imam Malik ra. memiliki kebiasaan baik dalam menghadiri majelis ilmu. Ia selalu tampil rapi, berpakaian bagus dan berhias untuk menghadiri majelis ilmu. Karena itu ia tampak berwibawa dan berbeda dengan yang lainnya. Tentang ini, al-Waqidi berkomentar, “Majelisnya adalah majelis yang berwibawa dan penuh dengan nuansa ilmu.”

Imam Malik sangat berkomitmen dalam berfatwa. Ia selalu hati-hati, berpikir mendalam dan tidak tergesa-gesa dalam berfatwa. Terkait ini, Imam Malik pernah berkata, “Siapa saja yang ingin menjawab pertanyaan (berfatwa), hendaknya ia memikirkan nasibnya di neraka dan surga serta bagaimana ia selamat di negeri akhirat.” (Ibn Farhun, Ad-Dibâj al-Madzhab fî Ma’rifah A’yân Ulamâ’ al-Madzhab, hlm. 117).

Banyak ulama memuji Imam Malik. Sufyan bin ‘Uyainah, misalnya, berkata, “Saya tidak melihat Madinah kecuali akan rusak setelah wafatnya Malik bin Anas.”

Imam Syafii berkata, “Jika para ulama disebutkan maka Imam Malik adalah bintang (pakar)-nya…Siapa saja yang menginginkan hadits sahih hendaknya (menemui) Imam Malik.”

Ahmad bin Hanbal berkata, “Malik adalah imam dalam ilmu hadits dan fikih.”

Al-Qadhi ‘Iyadh pun berkata, “Imam Malik adalah rujukan satu-satunya sejak bertahun-tahun yang lalu.” (Al-Madarik, hlm 111).

Banyak hal menarik terkait sikap Imam Malik terkait ilmu. Ia, misalnya, pernah ditanya tentang firman Allah SWT: Ar-Rahman ‘ala al-‘Arsy istawâ (Allah bersemayam di atas ‘Arsy). Beliau lalu menjawab, “Al-Istiwâ’ itu diketahui. Adapun caranya bagaimana tidak diketahui. Bertanya tentang itu adalah bid’ah.” (Siyar A’lâm an-Nubalâ’, XVIII/474).

Imam Malik tak pernah sedikit pun menyepelekan ilmu. Ia pernah ditanya seseorang dan mengatakan, “Ini masalah sepele.”

Mendengar itu, ia marah dan berkata, “Bagaimana bisa dikatakan sepele! Ilmu itu tak ada yang sepele. Tidakkah engkau mendengar firman Allah SWT (yang artinya): Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepada kamu perkataan yang berat (TQS al-Muzzammil: 5). Semua ilmu itu berat, khususnya yang akan ditanya pada Hari Kiamat.”(Al-Madarik, h lm. 162).

Imam Malik pernah berkata, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Karena itu perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Tahdzîb al-Kamâl, I/161).

Ia juga pernah bertutur, “Ilmu itu bukan dengan (menghapal) banyak riwayat. Akan tetapi, ilmu itu adalah cahaya yang Allah tanamkan di dalam kalbu.” (Al-Kamâl li ‘ibn ‘Adî, I/25).

Ia pun pernah memberi nasihat, “Janganlah mengambil ilmu dari empat jenis orang, tetapi ambillah dari selain mereka. Jangan mengambil ilmu dari orang bodoh yang terang-terangan menunjukkan kebodohannya meski dia orang yang paling terpandang di hadapan manusia; jangan pula dari orang yang didominasi hawa nafsu dan kepentingannya yang menyeru manusia sesuai dengan hawa nafsu dan kepentingannya; jangan pula dari pendusta yang banyak berdusta di hadapan manusia meski kamu tidak menganggap dia mendustakan Rasulullah saw.; jangan pula dari orang tua yang ahli ibadah dan memiliki keutamaan jika dia tak memahami apa yang dia bicarakan (bukan orang faqîh).” (Al-Kamâl li ‘ibn ‘Adî, I/92).

Imam Malik menerima hadits dari 900 orang (guru), 300 dari tâbi’în dan 600 dari tâbi’ tâbi’în. Imam Malik lalu menyusun kitab Al-Muwaththa’ yang menghimpun 100.000 hadits. Kitab ini diriwayatkan oleh tak lebih dari seribu orang.

Imam Malik adalah ulama yang tak pernah menjilat penguasa. Diriwayatkan, dalam sebuah kunjungan ke Kota Madinah untuk menziarahi Makam Rasulullah saw., Khalifah Bani Abbasiyyah, Harun ar-Rasyid (penguasa saat itu), tertarik mengikuti kajian Al-Muwaththa’ Imam Malik. Untuk itu Khalifah mengutus Yahya bin Khalid al-Barmaki untuk memanggil Imam Malik. Namun, Imam Malik menolak untuk mendatangi Khalifah seraya berkata kepada utusan Khalifah itu, “Al-‘Ilmu yuzâr wa lâ yazûr, yu’tâ wa lâ ya’tî (Ilmu itu dikunjungi, bukan mengunjungi; didatangi, bukan mendatangi).”

Akhirnya, terpaksa Khalifah Harun ar-Rasyid mengalah. Ia lalu mendatangi Imam Malik dan duduk di majelisnya. Sedianya Khalifah ingin jamaah meninggalkan majelis tersebut. Namun, permintaan itu ditolak oleh Imam Malik. “Saya tidak bisa mengorbankan kepentingan orang banyak hanya demi kepentingan seorang.”

Sang Khalifah pun akhirnya mengikuti kajian Imam Malik dan duduk berdampingan dengan rakyat kecil (Lihat: Al-‘Ashami, Samth an-Nujûm al-‘Awâlî fî Anbâ’ al-Awâ’il at-Tawâlî, II/2014).

وما توفيقي إلا بالله عليه توكلت وإليه أنيب

[Arief B. Iskandar]

IMAM LAITS BIN SAAD

Nama lengkapnya adalah Abu Harits al-Laits bin Sa’ad bin Abdurrahman. Ia lahir pada bulan Sya’ban tahun 94 H di kampung Qalqasyandah, sekitar sepuluh kilometer dari Kairo, Mesir. Ia adalah seorang ulama besar, ahli fikih terkemuka dan perawi hadits terpercaya yang hidup pada masa kekuasaan Bani Umayyah.

Sejak kecil Laits bin Saad sudah hapal al-Quran serta banyak hadits dan syair-syair Arab. Al-Laits banyak belajar di masjid agung di Kota al-Fusthath (Masjid Amru bin al-Ash). Di masjid itu para pencari ilmu dapat mempelajari  berbagai jenis ilmu seperti tafsir al-Quran, ilmu hadits, fikih, bahasa Arab, sastra, sejarah, dan lain sebagainya.

Laits bin Saad juga mengadakan rihlah ilmiah ke Irak dan daratan Hijaz. Gurunya dari kalangan Tâbi’in sangat banyak. Al-Mizzi menyebutkan sekitar 80 guru. Muridnya yang terkemuka mencapai lebih 70 orang. Sebagian besar dari muridnya kelak menjadi guru-guru Imam Ahmad, seperti Ibnul Mubarak dan Ibnu Wahab. Sebagian lagi menjadi guru Imam al-Bukhari,  seperti Yahya bin Bukair. Yang lain menjadi guru Imam Muslim, seperti Yahya bin Yahya at-Tamimi.

Imam al-Bukhari dan Muslim banyak meriwayatkan hadits dari Imam al-Laits. Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Syafii, Sufyan ats-Tsauri, al-Ijli dan kebanyakan ulama menganggap Imam al-Laits tsiqah. Para ulama telah menetapkan bahwa sanad paling sahih di Mesir adalah yang diriwayatkan oleh Imam al-Laits bin Saad, dari Yazid bin Abi Habib.

Imam al-Laits dikenal sebagai salah satu mujtahid besar di bidang fikih yang pemikirannya sangat cemerlang. Ibnu Hajar al-Asqalani, seorang fakih dan muhaddits kenamaan yang hidup pada generasi sesudahnya, memberikan penghormatan dan pengakuan atas keilmuan Imam al-Laits. “Ilmu para Tâbi’în yang berasal dari Mesir telah habis diserap oleh al-Laits,” kata Ibnu Hajar.

Karena kefakihannya, Imam Malik bahkan sering menanyakan berbagai persoalan kepada Imam Laits bin Saad.

Sekalipun tidak meninggalkan satu karya tulis pun, pemikiran Imam al-Laits sebenarnya masih bisa dilacak hingga saat ini. Pasalnya, banyak ulama fikih dari generasi sesudahnya yang sering menukil pendapatnya dalam kitab-kitab mereka. Di antara kitab yang memuat petikan pemikiran Imam al-Laits adalah Al-Mughni (kitab fikih mazhab Hanbali yang disusun oleh Ibnu Qudamah), Al-Muhalla (kitab fikih mazhab azh-Zhahiri yang dikarang oleh Ibnu Hazm) dan Bidâyah al-Mujtahid (kitab fikih mazhab Maliki karya Ibnu Rusyd).

Imam al-Laits juga banyak meninggalkan jejak pemikiran dalam ilmu ushul fikih. Tentang ijmak, misalnya, Imam al-Laits berpendapat bahwa ijmak (konsensus) yang bisa dijadikan dalil hanyalah Ijmak Sahabat (Khathib al-Baghdadi, Târîkh al-Baghdâd, 13/3, Adz-Dzahabi, Tadzkîrât al-Huffâzh, 1/207).

Terkait keilmuan Imam al-Laits, Imam an-Nawawi berkomentar, “Semua orang sepakat akan keagungan Imam Laits; termasuk sifat amanahnya dan ketinggian derajatnya dalam fikih dan hadits.”

Bahkan Ibn Wahab berkata, “Andai tidak ada Imam Malik dan Imam al-Laits, tentu manusia akan tersesat.”

Imam asy-Syafii bahkan menilai Imam al-Laits lebih fakih daripada Imam Malik. Hanya saja, kata Imam asy-Syafii, karena kekurangsigapan murid-muridnya untuk membukukan pemikirannya, mazhab al-Laits bin Saad akhirnya lenyap (An-Nawawi, Tahdzîb al-Asmâ’ wa al-Lughât, 2/73).

***

Selain seorang ulama besar, Imam al-Laits juga termasuk pengusaha sukses yang amat dermawan. Karena itu, meski menjadi pengusaha sukses, Imam al-Laits tidak pernah menjadi kaya-raya sehingga tidak pernah membayar zakat. Mengapa?  Muhammad bin Ramh menceritakan, “Setiap tahun omset bisnis Imam al-Laits lebih dari 80.000 dinar (sekitar RP 160 miliar/tahun). Namun, beliau tidak pernah membayar zakat. Pasalnya, sebelum mencapai satu tahun (haul), hartanya sudah habis ia infakkan dan sedekahkan. Begitu seterusnya.” (An-Nawawi, Tahdzîb al-Asmâ’ wa al-Lughât, 2/73).

Qutaibah bin Said menuturkan bahwa Imam al-Laits selalu bersedekah setiap hari untuk 300 fakir miskin.

Imam al-Laits juga gemar bersedekah kepada para ulama, salah satunya Imam Malik. Setiap tahun ia biasa mengirim hadiah sebanyak 100 dinar (sekitar Rp 200 juta) untuk Imam Malik.

Suatu saat, Imam Malik menulis surat kepada Imam Laits bahwa ia memiliki utang yang harus dilunasi. Segera Imam Laits membalas surat Imam Malik sambil memberikan secara cuma-cuma uang sebanyak 500 dinar atau sekitar Rp 1 miliar (Al-Jâmi’ fî Rasâ’il ad-Da’wiyyah, 128-129).

Yahya bin Bakr, berkata: Aku pernah mendengar ayahku berkata, “Al-Laits pernah mengutus tiga orang untuk menyedekahkan hartanya sebanyak 3000 dinar (sekitar Rp 6 miliar) kepada tiga orang, masing-masing mendapatkan 1000 dinar (sekitar Rp 2 miliar), yaitu: Ibnu Luhai’ah, Malik bin Anas dan Qadhi Manshur bin Ammar.”

Suatu ketika ada seorang wanita miskin meminta kepada sang Imam madu alakadarnya untuk pengobatan anaknya yang sedang sakit. Saat itu Imam al-Laits malah memberi wanita itu 120 liter madu.

Saat pergi haji, Imam al-Laits singgah di Madinah. Saat itu Imam Malik mengirim beberapa lembar roti basah dari gandum di atas nampan. Setelah menyantap habis hidangan itu, Imam al-Laits lalu mengembalikan nampan tersebut dengan menaruh uang di atasnya sebanyak 1000 dinar (sekitar RP 2 miliar) sebagai hadiah untuk Imam Malik.

Pada suatu ketika, Khalifah Harun ar-Rasyid memberi Imam Malik uang sebanyak 500 dinar (sekitar Rp 1 miliar). Mengetahui itu, Imam Laits  tidak mau kalah. Ia kembali memberi hadiah Imam Malik berupa uang dengan jumlah dua kali lipat, yakni 1.000 dinar (sekitar Rp 2 miliar) (Al-Irbili, Wafiyât al-‘Ayân wa Anbâ’ Abnâ’ az-Zamân, 4/10).

***

Ibn Miskin menuturkan bahwa Imam al-Laits sempat dibawa oleh Khalifah al-Ma’mun ke Baghdad dan dipenjarakan di sana. Pasalnya, ia tidak mau memenuhi tuntutan Khalifah al-Ma’mun untuk menyatakan bahwa al-Quran adalah makhluk. Imam al-Laits tetap dipenjara hingga Ja’far al-Mutawakkil naik takhta. Sejak itulah ia baru dibebaskan (Al-Irbili, Wafiyât al-‘Ayân wa Anbâ’ Abnâ’ az-Zamân, 2/56).

Imam al-Laits wafat sekitar tahun 175 H. Terkait wafatnya Imam al-Laits, Imam Syafii pernah berdiri di sisi kuburannya seraya berkata, “Demi Allah, wahai Imam, engkau telah mengumpulkan empat sifat yang tidak dimiliki ulama lainnya: ilmu, amal, zuhud dan kedermawanan.”  (Khathib al-Baghdadi, Târîkh al-Baghdâd, 13/3;  Adz-Dzahabi, Tadzkirât al-Huffâzh, 1/207).

وما توفيقي إلا بالله عليه توكلت وإليه أنيب

[Arief B. Iskandar]

IBRAHIM BIN ADHAM

Nama lengkapnya adalah Ibrahim bin Adham bin al-Manshur al-Ijli. Ia lahir di Balakh, sebelah Timur Khurasan. Karena itu ia dikenal pula dengan nama Abu Ishaq al-Balakhi. Menurut Imam al-Bukhari (w. 870 M), Ibrahim bin Adham adalah keturunan kedua dari Umar bin al-Khaththab.

Ibrahim bin Adham adalah seorang penguasa di Balakh yang kaya-raya dengan istananya yang megah. Namun, meski hidup bergelimang harta dan kekuasaan, hatinya tidak menjadi lalai.

Lama-lama, gemerlapnya dunia tak membuat dirinya bahagia, juga tak bisa menghadirkan ketenangan jiwa. Akhirnya, ia meninggalkan istana dan semua kemewahan duniawi. Ia pergi ke Baghdad, Irak, Syam dan Hijaz untuk menimba ilmu dari para ulama. Pencahariannya ditopang dari hasil buruan dan memelihara kebun. Ia hidup sebagai seorang yang amat zuhud dan wara. Ia terkenal sebagai ahli ibadah dan sangat penyantun terhadap sesama, apalagi kepada orang-orang miskin (Lihat: Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala, 7/387-396).

Tentang keutamaan Ibrahim bin Adham, Imam an-Nasai berkata, “Ibrahim bin Adham tsiqah (terpercaya). Ia salah seorang yang amat zuhud.” (Al-Khathib al-Baghdadi, Târîkh Baghdâd, 3/219).

Karena keilmuan, keikhlasan, kewaraan dan kezuhudannya, Ibrahim bin Adham dikenal sebagai salah seorang Sulthân al-Awliyâ. Bahkan menisbatkan Sulthân al-Awliyâ  kepada Ibrahim bin Adham (w. 206 H) telah amat populer (Al-Muradi, Khulashat al-Atsar, 2/18; Muhammad bin Abu Bakar bin Khakkan, Wafiyât al-Ayân, I/32).

Terkait keikhlasannya, Ibrahim bin Adham, jika ikut terlibat dalam peperangan (jihad), misalnya, usai perang ia tidak mengambil ghanîmah (rampasan perang) yang menjadi haknya. Hal itu ia lakukan demi meraih kesempurnaan pahala jihad (Ibn al-Jauzi, Talbîs Iblîs, 1/180; Al-Mustafâd min Dzayl Târîkh Baghdâd, 1/31).

Terkait kewaraan dan kezuhudannya, Ibrahim bin Adham rela meninggalkan istanannya yang megah dan segala kemewahan duniawi. Ia pergi menuju Syam untuk mencari rezeki yang halal dengan tangannya sendiri. Ia bekerja di kebun milik orang lain dengan tekun (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala, 7/387-396).

Sikap zuhudnya juga tampak saat Ibrahim bin Adham pergi safar ke Baitullah (Makkah). Saat itu ia berpapasan dengan seorang Arab dusun yang mengendarai seekor unta. Orang itu berkata, “Syaikh, mau kemana?” Ibrahim bin Adham menjawab, “Ke Baitullah.” Orang itu bertanya lagi, “Anda ini seperti tak waras. Saya tidak melihat Anda membawa kendaraan, juga bekal, sementara perjalanan sangat jauh.” Ibrahim kembali berkata, “Sebetulnya saya memiliki beberapa kendaraan. Hanya saja, engkau tidak melihatnya.” Orang itu bertanya, “Kendaraan apa gerangan?” Ibrahim bin Adham berkata, “Jika di perjalanan aku tertimpa musibah, aku menaiki kendaraan sabar. Jika di perjalanan aku mendapatkan nikmat, aku menaiki kendaraan syukur. Jika di perjalanan Allah SWT menetapkan suatu qadhâ untukku, aku menaiki kendaraan ridha.” Orang Arab dusun itu lalu berkata, “Jika demikian, dengan izin Allah, teruskan perjalanan Anda, Syaikh. Anda benar-benar berkendaraan. Sayalah yang tidak berkendaraan.” (Fakhruddin ar-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, 1/234).

Dalam kisah lain, Sahl bin Ibrahim menuturkan, “Aku berteman dengan Ibrahim bin Adham. Saat aku sakit ia membiayai semua pengobatanku dan memenuhi semua keinginanku. Setelah agak sembuh dari sakitku, aku bertanya, “Ibrahim, di manakah keledaimu?” Ibrahim bin Adham menjawab enteng, “Telah kujual untuk memenuhi keperluanmu.” Aku bertanya kembali, “Lalu kita naik apa?” Ibrahim bin Adham berkata, “Saudaraku, naiklah  ke atas punggungku.” Kemudian ia membawa aku ketiga tempat (Al-Qusairi, Risâlah al-Qusyairiyyah).

Ibrahim bin Adham amat terkenal dengan nasihat-nasihatnya yang bernas dan amat menyentuh kalbu. Ia, antara lain, berkata, “Ada tiga perkara yang paling mulia di akhir zaman: (1) teman dekat di jalan Allah; (2) mengusahakan harta yang halal; (3) menyatakan kebenaran di hadapan penguasa.” (Abu al-Hajjaj al-Mazzi, Tahdzîb al-Kamâl, 2/35).

Suatu saat Ibrahim bin Adham berjalan melewati sebuah pasar di Bashrah, Irak. Tiba-tiba ia dikelilingi oleh banyak orang. Ia ditanya oleh mereka tentang firman Allah SWT yang artinya, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan do’a kalian.” (QS Ghafir [40]: 60). Mereka mengatakan, “Kami telah berdoa kepada Allah, namun mengapa belum juga dikabulkan?” Lalu beliau menjawab, “Karena hati kalian telah mati oleh sepuluh perkara: (1) Kalian mengklaim mengenal Allah, tetapi tidak menunaikan hak-hak-Nya; (2) Kalian membaca Kitab-Nya, tetapi tidak mengamalkan isinya; (3) Kalian mengaku memusuhi setan, tetapi mengikuti ajakannya; (4) Kalian mengaku mencintai Rasulullah saw., tetapi meninggalkan sunnah-sunnahnya; (5) Kalian mengklaim merindukan surga, tetapi tidak melakukan amalan-amalan penduduk surga; (6) Kalian mengaku takut neraka, tetapi justru banyak melakukan perbuatan penduduk neraka; (7) Kalian mengatakan kematian itu pasti, tetapi tidak menyiapkan bekal untuk menghadapi kematian itu; (8) Kalian sibuk mencari aib orang lain, sedangkan aib kalian sendiri tidak kalian perhatikan; (9) Kalian makan dari rezeki Allah, tetapi tidak pernah bersyukur kepada-Nya; (10) Kalian sering menguburkan orang mati, tetapi tidak pernah mengambil pelajaran dari kematian mereka.”

Mendengar nasihat itu, orang-orang itu pun menangis (Ibn Rajab al-Hanbali, Rawai at-Tafsîr, 2/230; Jâmi’ Bayân al-‘Ilmi wa Fadhlihi, 12/2).

Ibrahim bin Basyar ash-Shufi al-Khurasani, pembanttu Ibrahim bin Adham, menuturkan kisah lain: Pernah seorang sufi datang kepada Ibrahim bin Adham dan bertanya, “Abu Ishaq, mengapa hatiku seperti terhijab dari Allah Azza wa Jalla?” Ibrahim bin Adham menjawab, “Karena hatimu mencintai apa yang Allah benci. Kamu lebih mencintai dunia dan cenderung pada kehidupan yang penuh tipuan, senda-gurau dan permainan.” (Abu Bakr al-Khathib al-Baghdadi, Târîkh Baghdâd, 6/47).

Ibrahim bin Adham juga berkata, “Amal terberat di mizan (timbangan amal di akhirat) adalah yang paling memberatkan badan (dilakukan dengan susah-payah, pen.).” (Al-Asbahani, Hilyah al-Awliyâ wa Thabaqât al-Ashfiyâ, 8/16).

Menurut Ibnu Asakir, Ibrahim bin Adham wafat sebagai syuhada pada 162 H dalam sebuah peperangan (jihad). Ia dimakamkan di Jabala, Suriah.

وما توفيقي إلا بالله عليه توكلت وإليه أنيب

[Arief B. Iskandar]

FUDHAIL BIN IYADH

Fudhail bin ‘Iyadh lahir di Samarqand dan dibesarkan di Abu Warda, suatu tempat di daerah Khurasan, tahun 107 Hijrah. Ia hidup sezaman antara lain dengan Imam Malik, Sufyan bin Uyainah dan Abdullah bin al-Mubarak.

Fadhl bin Musa berkata, Fudhail bin ‘Iyadh dulunya adalah seorang penyamun (perampok) yang cukup ditakuti. Ia biasa merampok orang-orang di daerah antara Abu Warda dan Sirjis. Suatu saat ia pernah terpikat dengan seorang wanita. Saat ia memanjat tembok guna melaksanakan hasratnya terhadap wanita tersebut, tiba-tiba ia mendengar seseorang membaca ayat (yang artinya): “Belumkah datang waktunya bagi kaum beriman menundukkan hati mereka guna mengingat Allah (QS al-Hadid [57]: 16).

Tatkala mendengar itu, kontan tubuhnya bergetar. Ia lalu bergumam, “Rabb-ku, tentu telah tiba saatku (untuk bertobat).”

Lalu malam itu juga ia segera bergegas kembali. Namun, saat ia tengah berlindung dan bersembunyi di balik reruntuhan bangunan, tiba-tiba lewat sekelompok orang. Seseorang dari mereka berkata, “Kita jalan terus.” Yang lain menimpali, “Ya, kita jalan terus sampai pagi karena biasanya Fudhail menghadang kita di jalan ini.”

Mendengar itu, Fudhail bergumam, “Aku melakukan berbagai kejahatan pada malam hari hingga sebagian dari kaum Muslim takut kepadaku. Ya Allah, sungguh aku bertobat kepada-Mu.” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala,  8/423).

Sejak itu Fudhail bin ‘Iyadh benar-benar bertobat. Ia berubah menjadi pribadi yang shalih, ahli ibadah, wara’ dan zuhud. Ia lalu menghabiskan banyak waktunya di Kufah sambil berguru kepada sejumlah ulama terkemuka. Ia kemudian hijrah dan menetap di Makkah sambil terus berguru ke sejumlah ulama besar di sana. Pada akhirnya, Fudhail bin ‘Iyadh menjelma menjadi seorang ulama terkemuka, ahli fikih dan ahli hadits. Fudhail bin ‘lyadh adalah seorang cerdas, kuat hapalannya dan wara’. Tiga sifat ini merupakan modal utama seorang ahli hadits. Ia paham betul sabda Rasulullah saw., “Siapa saja yang berdusta atas namaku secara sengaja, bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka.” (HR al-Bukhari).

Karena itu tidak aneh jika menurut Sufyan bin Uyainah, “Fudhail adalah orang yang tsiqah (terpercaya).”

Imam an-Nawawi pun berkomentar, “Hadits-hadits yang diriwayatkan Fudhail itu sahih.”

Fudhail bin ‘Iyadh pun dikenal karena ketekunan dan kekhusukannya dalam beribadah hingga dijuluki ‘Abid al-Haramayn (Ahli Ibadah Makkah dan Madinah).

Jika malam mulai datang, Fudhail bin ‘Iyadh biasa menggelar sejadahnya untuk menunaikan qiyâmul-layl. Ia terus dalam keadaan shalat hingga rasa kantuknya datang tak tertahankan. Ia pun berbaring sebentar, untuk kemudian kembali shalat. Saat kembali kantuknya datang tak tertahankan, ia kembali berbaring sebentar. Kemudian ia pun kembali bangkit untuk shalat. Begitu seterusnya hingga datang waktu subuh.

Terkait shalat malam ini, Fudhail pernah berkata, “Jika kamu merasa begitu berat untuk menunaikan qiyâmul-layl dan berpuasa di siang hari, ketahuilah, sesungguhnya dirimu telah terbelenggu oleh dosa dan maksiat yang kamu perbuat.”

Fudhail bin ‘Iyadh pun dikenal karena kewaraan dan kezuhudannya. Ia mencukupkan nafkah untuk dirinya dan keluarganya dari hasil mengurus air di Makkah yang tak seberapa hasilnya. Meski hidup pas-pasan, ia menolak segala bentuk pemberian dan hadiah dari Khalifah ataupun para pejabatnya. Ia, misalnya, pernah menolak pemberian uang sebesar 1000 dinar (sekitar Rp 2 miliar) dari Khalifah Harun ar-Rasyid.

Wajah Fudhail pun sering tampak seperti bekas menangis karena kesedihan dan rasa takutnya kepada Allah SWT. Tentang ini Ishaq bin Ibrahim ath-Thabari pernah menuturkan. “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih memperlihatkan rasa takutnya kepada Allah SWT selain Fudhail. Saat ia membaca al-Quran, kitab itu ia baca dengan lembut, syahdu dan begitu menyentuh hati; seolah ia sedang berbicara dengan seseorang.”

Fudhail bin Iyadh banyak memberikan nasihat bijak dan bernas. Tentang ikhlas, misalnya, Fudhail bin ‘Iyadh  berkata, “Meninggalkan amal shalih karena manusia adalah riya. Beramal shalih karena manusia adalah syirik. Ikhlas adalah keterbebasan dari keduanya.” (An-Nawawi, Al-Adzkâr, hlm. 7).

Tentang tawaduk, Fudhail berkata, “Tawaduk itu engkau tunduk dan patuh pada kebenaran, dari mana pun datangnya.”

Tentang bagaimana wujud sabar dalam menghadapi musibah, Fudhail berkata, “Dengan tidak menceritakannya.” (Abu Nu’aim, Hilyah al-Awliyâ’, 8/91).

Adapun tentang iman yang sempurna, Fudhail berkata, “Seorang hamba tidak akan menggapai hakikat iman kecuali setelah menganggap musibah sebagai nikmat dan nikmat sebagai musibah (Abu Nu’aim, Hilyah al-Awliya’, 8/94).

Seseorang pernah berkunjung kepada Fudhail untuk meminta nasihat. Ia pun berkata, “Kosongkan hatimu dari yang lain kecuali rasa takut dan tangismu kepada Allah SWT. Jika keduanya sudah bersarang di hatimu, takut dan tangis itu akan membentengi kamu dari melakukan maksiat dan menjauhkan dirimu dari api neraka.”

Ia pun pernah berkata, ”Manusia yang paling dekat dengan Allah adalah yang paling takut kepada-Nya. Manusia tidak akan sempurna hingga agamanya mampu mengalahkan nafsunya. Manusia tidak akan binasa hingga nafsunya mengalahkan agamanya.” (Syaikh Ahmad Farid, Min A’lam as-Salaf).

Fudhail bin ‘Iyadh termasuk ulama yang berusaha menjauhi para penguasa. Terkait sikapnya ini ia pernah berkata, “Seseorang mendekati bangkai yang berbau busuk jauh lebih baik daripada mendekati para penguasa.”

Namun demikian, terkait para penguasa pula, Fudhail pernah berkata, “Jika aku punya doa mustajab, doa itu akan kupakai untuk mendoakan penguasa.” Orang-orang bertanya, “Mengapa begitu, wahai Abu Ali?”  Jawab Fudhail, “Jika doa mustajab tersebut kupakai untuk diriku sendiri, aku tidak akan mendapatkan balasan. Namun, jika kupakai untuk mendoakan penguasa maka baiknya penguasa akan berdampak baik bagi rakyat dan negeri.” (Abu Nu’aim, Hilyah al-Awliyâ’, 8/91).

Fudhail bin ‘Iyadh wafat pada tahun 187 H dalam usia 80 tahun (Lihat: Ibn Asakir, Târîkh Dimasyqi, 32/450; Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala, 7/386; as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyah, 1/287).

[Arief B. Iskandar]