Menu Close

DIMANAKAH POSIS KITA; ‘ALIM, MUTA’ALLIM, ATAU BUKAN KEDUANYA?

Dalam kitab Tadzkirah al-Sami’ wa al-Mutakallim fi Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, karya al-Imam al-Qadhi Ibnu Jama’ah, hlm. 172-186, disebutkan adab bagi penuntut ilmu terhadap pelajarannya. Pada bagian itu, semuanya ada 13 hal yang menjadi panduan penuntut ilmu. Saya mencoba kutip beberapa bagian saja yang dianggap relevan dengan belajar al-Quran dan Hadits.

Saya mulai dari sebuah riwayat sbb,

قال عمر رضي الله عنه: تفقهوا قبل أن تسودوا.

Umar رضي الله عنه berkata, “Belajarlah sebelum kalian menjadi seorang tokoh”

وقال الشافعي رضي الله عنه: تفقه قبل أن ترأس فإذا رأست فلا سبيل إلى التفقه.

Al-Syafi’i رضي الله عنه berkata, “Belajarlah sebelum kamu memimpin, apabila kamu telah memimpin maka tidak ada jalan untuk belajar”

Demikian juga untaian motivasi yang indah lainnya,

سعيد بن جبير: لا يزال الرجل عالمًا ما تعلم، فإذا ترك التعلم وظن أنه قد استغنى أسوأ جهل ما يكون.

Sa’id bin Jubair berkata, “Seseorang tetap menjadi seorang ‘alim selama ia terus belajar. Maka jika ia meninggalkan belajar dan merasa cukup dengan ilmunya, itu merupakan seburuk-buruknya kebodohan”

Pada kesempatan ini, saya hendak menuturkan beberapa tahapan belajar sekaligus sebuah kriteria bagi seorang penuntut ilmu,

Pertama, memulai dengan menghafal dan mengkaji al-Qur’an, tafsirnya, dan ilmu yang terkait dengannya.

أن يبتدئ أولاً بكتاب الله العزيز فيتقنه حفظًا ويجتهد على إتقان تفسيره وسائر علومه، فإنه أصل العلوم وأمها وأهمها.

“Hendaknya seorang penuntut ilmu mengawali dengan kitab Allah yang mulia (al-Quran), kemudian ia menguatkan hafalannya dan bersungguh-sungguh memahami tafsirnya dan seluruh ilmu-ilmunya. Karena hal itu adalah pokok segala ilmu, sumber segala ilmu, dan ilmu yang paling penting.” (Tadzkirah as-Sami’ wa al-Mutakallim, hlm. 172)

Kedua, mengkaji cabang ilmu lainnya secara ringkas.

ثم يحفظ من كل فن مختصرًا يجمع فيه بين طرفيه من الحديث وعلومه، والأصولين والنحو والتصريف، ولا يشتغل بذلك كله عن دراسة القرآن وتعهده وملازمة ورده منه في كل يوم أو أيام أو جمعة كما تقدم، وليحذر من نسيانه بعد حفظه فقد ورد فيه أحاديث تزجر عنه.

“Kemudian ia menghafal (memahami) dari seluruh cabang ilmu secara ringkas yang menghimpun di dalamnya berupa hadits dan ilmu-ilmunya, ilmu ushul, ilmu nahwu, ilmu tashrif. Tetapi semua itu jangan menyibukannya dari mempelajari al-Qur’an, memeliharanya, terus menerus hadir mempelajarinya setiap hari, atau beberapa hari, atau setiap Jum’at. Berhati-hatilah melupakan hafalan (pemahaman) al-Qur’an setelah menghafalnya. Sungguh telah datang hadits-hadits tentang ancaman melupakan hafalan al-Qur’an” (Tadzkirah as-Sami’ wa al-Mutakallim, hlm. 172)

Ketiga, mempelajari kitab-kitab hadits dan ilmunya.

أن يبكر بسماع الحديث ولا يهمل الاشتغال به وبعلومه والنظر في إسناده ورجاله ومعانيه وأحكامه وفوائده ولغته وتواريخه.

“Hendaknya penuntut ilmu bergegas untuk mendengar hadits, dan janganlah ia lalai untuk selalu sibuk mempelajari hadits, ilmu-ilmunya, meneliti sanad-sanadnya, rawi-rawinya, makna-maknanya, hukum-hukumnya, faidah-faidahnya, bahasanya, dan sejarahnya” (Tadzkirah as-Sami’ wa al-Mutakallim, hlm. 175)

Adapun langkahnya adalah memulai mempelajari delapan kitab hadits,

ويعتني أولاً بصحيحي البخاري ومسلم، ثم ببقية الكتب الأعلام والأصول المعتمدة في هذا الشأن كموطأ مالك وسنن أبي داود والنسائي وابن ماجه وجامع الترمذي ومسند الشافعي

“Ia mengutamakan pertama kali dengan Shahih al-Bukhari dan Muslim. Kemudian kitab-kitab yang lainnya yang pokok yang menjadi pegangan dalam bidang ini, seperti al-Muwatha’ Malik, Sunan Abi Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah, Jami’ al-Tirmidzi, dan Musnad al-Syafi’i”. (Tadzkirah as-Sami’ wa al-Mutakallim, hlm. 175)

Kitab lainnya yang dapat membantu bagi seorang faqih adalah Sunan al-Kabir al-Baihaqi, kitab-kitab Musnad spt Musnad Ahmad, Ibnu Humaid, dan al-Bazar. (Lihat Tadzkirah as-Sami’ wa al-Mutakallim, hlm. 175)

Adapun yang menjadi fokus kajian adalah,

ويعتني بمعرفة صحيح الحديث وحسنه وضعيفه ومسنده ومرسله وسائر أنواعه فإنه أحد جناحي العالم بالشريعة المبين لكثير من الجناح الآخر وهو القرآن.

“Ia memfokuskan untuk mengetahui keshahihan hadits, hasannya, dha’ifnya, musnadnya, mursalnya, dan seluruh jenisnya. Karena ilmu hadits merupakan salah satu sayap seorang ‘alim dalam ilmu syari’at dari sayap yang lainnya berupa al-Qur’an.” (Tadzkirah as-Sami’ wa al-Mutakallim, hlm. 175)

Keempat, mengkaji kitab dan ilmu yang lebih luas cakupannya.

إذا شرح محفوظاته المختصرات وضبط ما فيها من الإشكالات والفوائد المهمات انتقل إلى بحث المبسوطات مع المطالعة الدائمة وتعليق ما يمر به أو يسمعه من الفوائد النفيسة والمسائل الدقيقة والفروع الغريبة وحل المشكلات والفروق بين أحكام المتشابهات من جميع أنواع العلوم

“Apabila penuntut ilmu telah menjaga hafalannya atau pemahamannya dari yang ringkas, menanggulangi berbagai kesulitan, dan mengambil faidah-faidah penting dalam kitab-kitab ringkas itu, barulah dia beranjak kepada pembahasan yang lebih luas dengan terus-menerus menela’ah dan memberikan komentar apa yang ia baca atau ia dengar berupa faidah yang agung, masalah-masalah yang mendalam, permasalahan cabang yang asing, penguraian berbagai masalah, dan hal yang membedakan antara hukum-hukum yang mutasyabih dari seluruh cabang ilmu.” (Tadzkirah as-Sami’ wa al-Mutakallim, hlm. 175)

Jadi, jika kita belum menempuh jalan yang benar sebagai muta’allim (penuntut ilmu), maka tentu masih jauh lagi pada level seorang ‘alim.

Tetaplah tawadhu’ dan terus belajar. Juga kita hormati setiap istilah sesuai peruntukannya. Tidak merasa ‘alim jika masih muta’allim. Jangan menggelari ‘alim terhadap orang yang masih muta’allim. Terlebih lagi bagi mereka yang sama sekali belum berjalan dalam rel muta’allim.

Semoga Allah ta’ala mengampuni kelalaian kita semua. Aamiin.

(Yuana Ryan Tresna)

*alim dalam konvensi Indonesia bisa disamakan dengan ustadz atau kyai.
** muta’allim dalam konvensi Indonesia bisa disamakan dengan pelajar atau santri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *