Menu Close

SAAT JARH DAN TA’DIL BERTEMU

Kaidah yang masyhur dalam perkara ini adalah:

إذا تعارض جرح و تعديل ، فلا يقبل إلا الجرح المفسر
(Jika jarh dan ta’dil bertentangan, maka jarh tidak diterima kecuali disertai penjelasan)

Imam al-Khatib al-Baghdadi menyebutkan,

اتفق أهل العلم على أنّ منْ جرحه الواحد ، والإثنان ، وعدّله مثل اعدد من جرحه ، فإن الجرح به أولى ، والعلة في ذلك : أن الجارح يخبر عن أمر باطن قد علمه ، ويصدق المعدّل ، ويقول له : قد علمتُ من حاله الظاهرة ما علمتها ، وتفرّدت بعلم لم تعلمه من اختبار أمره ، وإخبار المعدل عن العدالة الظاهرة لا ينفي صدق قول الجارح فيما أخبر به ، فوجب لذلك أن يكون الجرح أولى من التعديل.

Sampai di sini kita paham, bahwa jarh didahulukan dari pada ta’dil jika jarhnya disertai penjelasan terkait sebab-sebabnya. Hal itu karena menjarh hakikatnya sedang menginformasikan perkara yang tersembunyi. Hal itu berbeda dengan penta’dilan. Itu adalah kaidah dasar.

Dalam praktiknya, tidak selalu semudah teori. Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Dalam satu kondisi, bisa jadi ta’dil didahulukan, namun pada kondisi lain jarh yang didahulukan. Bahkan ada kondisi dimana jarh diterima pada riwayat tertentu namun pada riwayat lainnya ta’dil yang dimenangkan.

Contoh, rawi bernama Salam bin Abi Muthi’.

سلام بن أبي مطيع ، وثقه أحمد وأبو داود ، وقال النسائي : ليس به باس ، وأما ابن عدي ، فقال : ليس بمستقيم الحديث عن قتادة خاصةً ، وله أحاديث حسان وغرائب وأفراده ، وأطلق ابن حبان جرحه فقال : كان سيئ الأخذ لا يجوز الاحتجاج به إذا انفرد ، وقال الحاكم : المنسوب إلى العملة وسوء الحفظ .

Menarik bukan? Deretan ulama yang mentazkiyyah adalah imam Ahmad, imam Abu Dawud, dan imam Nasa’i. Adapun dereran ulama yang menjarh adalah imam Ibnu Adi, imam Ibnu Hibban dan imam al Hakim.

Kalau diteliti, jarh terhadap Salam bin Abi Muthi’ secara mutlak itu masih samar. Namun jarh terhadap Salam yang terbatas pada riwayat dari Qatadah sudah jelas. Oleh karenanya, jarh tersebut tidak sepenuhnya diterima. Jadi jarh yang diterima hanya pada kondisi ketika ia meriwayatkan dari Qatadah.

Artinya, secara umum Salam bin Abi Muthi’ adalah rawi yang tsiqah, kecuali apa yang ia riwayatkan dari Qatadah, maka ia dhaif.

Wallahu a’lam.

[Yuana Ryan Tresna]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *