Menu Close

PEMBELA IMAM AL-SYAFI’I

(Belajar dari Kegigihan Imam al-Baihaqi Membela dan Mengokohkan Pendalilan Madzhabnya Secara Adil)

Siapa saja yang ingin mengetahui hadits-hadits yang dimiliki oleh Imam al-Syafi’i, maka dia harus memeriksa semua kitab-kitab karangan beliau. Sebab Imam al-Syafi’i selalu menyebutkan hadits setiap kali berhujah untuk menetapkan suatu hukum. Kitab-kitab itu meliputi karangannya di Baghdad (qaul qadim) dan karanganya di Mesir (qaul jadid). Kebanyakan kitab-kitab itu pada saat ini telah tiada, namun seringkali dinukil oleh ulama-ulama hadits dan fiqh setelahnya. Imam al-Baihaqi lalu mengumpulkan sebagian besar hadits-hadits tersebut dalam kitabnya Ma’rifah al-Sunan wa al-Atsar.

Imam al-Baihaqi juga menceritakan bahwa Imam al-Syafi’i pernah menulis kitab “al-Sunan” yang diriwayatkan oleh Harmalah bin Yahya dan Isma’il bin Yahya al-Muzani. Imam al-Baihaqi berkata: “Di dalamnya terdapat tambahan hadits, atsar dan masalah-masalah yang cukup banyak.[al-Baihaqi, Manaqib al-Syafi’I, 1/255.]

Namun hingga saat ini hanya kitab riwayat al-Muzani yang dapat ditemukan. Abu Ja’far al-Thahawi meriwayatkan kitab itu dari al-Muzani dari al-Syafi’i. Kitab itu kemudian dicetak dengan judul “al-Sunan al-Ma’tsurat” dan dipublikasikan pertama kali di India dan juga di Kairo sekitar tahun 1315 H.

Imam Ibn Khuzaimah berkata: “Aku tidak menemukan sebuah hadits yang shahih namun tidak disebutkan al-Syafii dalam kitab-kitabnya.” Mengomentari ucapan ini, Imam al-Nawawi berkata, “Kebesaran Ibnu Khuzaimah dan keimamannya dalam hadits dan fiqh, serta penguasaanya akan ucapan-ucapan al-Syafi’i, sangat terkenal.”[al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh Muhaddzab”, jilid I, hlm. 105.]

Lantas siapakah yang disebut-sebut paling berjasa terhadap Imam al-Syafi’i dalam mengumpulkan hadits-haditsnya? Adalah Imam al-Baihaqi. Beliau adalah Abu Bakar Ahmad bin al-Husain bin Ali bin Musa al-Khurasani yang sangat terkenal dengan sebutan al-Baihaqi. Imam al-Dzahabi memberikan sekian banyak gelar dalam biografinya. Beliau menegaskan bahwa al-Baihaqi adalah seorang hafizh (penghafal al-Qur’an dan Hadits), ‘Allamah (orang yang sangat berilmu), Tsabt (yang kuat hafalannya), dan Syaikhul Islam (rujukan kaum muslimin pada berbagai bidang ilmu agama). Adapun Baihaq adalah sejumlah perkampungan yang secara geografis masuk wilayah Naisabur di Iran.

Kitab karya beliau sangat banyak, diantaranya adalah Sunan al-Kubra dan Ma’rifah al-Sunan wa al-Atsar. Untuk mengetahui dalil-dalil di dalam kitab al-Umm, umat Islam bisa merujuk kitab Ma’rifah al-Sunan wa al-Atsar karya imam al-Baihaqi. Kitab ini sangat berguna untuk mengetahui dalil-dalil Imam Syafi’i terutama dalil-dalil dari Sunnah dan Atsar serta bagaimana kedudukan haditsnya dan sanadnya. Kadang-kadang dalam kitab al-Umm sendiri tidak disebutkan dalilnya, tapi langsung ke hukumnya.

Menurut Imam Haramain, al-Juwaini, tidak ada seorang pun yang bermadzhab Syafi’i melainkan berhutang budi kepada Imam asy-Syafi’i kecuali Abu Bakar al-Baihaqi. Sebab Imam Baihaqi-lah yang melakukan pembelaan terhadap madzhab dan pendapat-pendapat Imam Syafi’i. (Thabaqat al-Syafi’iyyah 4/10).

Bahkan menurut Imam al-Dzahabi, Imam Syafi’i berhutang kepada Imam al-Baihaqi juga karena al-Baihaqi merupakan orang pertama yang mengumpulkan seluruh teks-teks al-Syafi’i. Jika seandainya al-Baihaqi mau membuat madzhab untuk dirinya di mana dia berijtihad, niscaya dia mampu melakukannya karena keluasan ilmu dan pengetahuannya tentang ikhtilaf ulama. Apalagi ia dikenal jeli memilih Hadits sahih untuk mendukung hujjah-hujjahnya. (al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala, 18/169).

Pada masanya Imam al-Baihaqi diakui sebagai orang nomor satu dalam hafalan dibanding lainnya. Bahkan ia unggul dalam kesempurnaan dan ketelitian berbagai disiplin ilmu. Meski ia murid Imam al-Hakim, namun para ulama mengakui lebih unggul dari gurunya tersebut dalam berbagai ilmu.

Kelebihan tersebut bisa dilihat dari karyanya dalam bidang Hadits yang sangat terkenal yaitu Sunan al-Kubra yang berjilid-jilid.

Pembelaan al-Baihaqi terhadap al-Syafi’i memang sangat total. Berbagai tuduhan miring terhadap Imam Syafi’i dapat ia jawab secara ilmiyah. Bahkan perkataan Imam Syafi’i yang sangat penting menyangkut berbagai fitnah umat waktu itu bisa ia buktikan dengan baik.

Misalnya, ketika terjadi fitnah mengenai orang yang paling mulia setelah Rasulullah, al-Baihaqi langsung mengutip perkataan Imam Syafi’i. Menurutnya, sang imam bependapat bahwa manusia paling mulia setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali (al-Baihaqi, Ma’rifah Sunan wal Atsar, 1/192). Ia menulis hal tersebut karena ada sebagian kelompok yang mengunggulkan Ali dan mencela Abu Bakar, Umar dan Utsman.

Itulah di antara sumbangsih dan peninggalan berharga dari Imam Baihaqi. Dia mewariskan ilmu-ilmunya untuk generasi berikutnya yang sangat bermanfaat.

Imam terkemuka ini meninggal dunia di Nisabur, Iran, tanggal 10 Jumadilawal 458 H (9 April 1066). Ia kemudian dibawa ke tanah kelahirannya di kota Baihaq dan dimakamkan di sana.

Yuana Ryan Tresna

Jakarta, 19 November 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *