Menu Close

TAAT KEPADA GURU YANG BERBUAH MANIS

Perintah dari guru terkait pembelajaran adalah kebaikan. Guru yang baik adalah ia yang tahu jalan dan mampu menunjukkan jalan yang harus ditempuh murid-muridnya. Perintah guru dapat membekas di hati muridnya, sehingga melecut semangatnya untuk menghasilkan karya terbaik bagi kaum muslim, diantara mereka adalah Imam Abul Hasan Ali bin Abi Bakr bin Sulaiman yang dikenal dengan Imam al-Haitsamiy al-Syafi’i (w. 807 H).

Salah satu karya monumentalnya yang menjadi rujukan para pakar takhrij hadits adalah “Majma’u al-Zawa’id wa Manba’u al-Fawa’id”. Kitab ini ditulis salah satu alasannya adalah instruksi dari guru beliau, yakni salah seorang pakar ilmu takhrij hadits yang sudah tidak asing bagi, yakni al-Hafizh Abul Fahdz Abdurrahim bin al-Iraqiy (w. 806 H), yang lebih dikenal dengan nama al-Hafizh al-Iraqiy.

Kitab “Majmau’ al-Zawa’id” berisi tentang hadits-hadits tambahan yang terdapat dalam beberapa kitab hadits berikut atas hadits-hadits yang ditulis didalam Kutub al-Sittah, al-Musnad karya Imam Ahmad, al-Musnad karya Imam Abu Ya’la, al-Musnad karya Imam al-Bazzar, dan Mu’jam (al-Kabir, al-Ausath, al-Shaghir) karya Imam al-Thabarani.

Dalam kitab Muqadimah kitab Majmu’ az-Zawa’id, terdapat perkataan al-Hafizh al-‘Iraqiy Rahimahullah kepada Imam al-Haitsami:

اجْمَعْ هَذِهِ التَّصَانِيفَ، وَاحْذِفْ أَسَانِيدَهَا ; لِكَيْ تَجْتَمِعَ أَحَادِيثُ كُلِّ بَابٍ مِنْهَا فِي بَابٍ وَاحِدٍ مِنْ هَذَا
“Kumpulkan kitab-kitab tersebut, lalu buang sanadnya, supaya terkumpul padanya hadits-hadits pada tiap babnya dalam satu pembahasan kitab”

Diantara kritik terhadap kitab karya Imam al-Haitsamiy ini adalah dianggap tasahul (terlalu gampang) dalam masalah penshahihan hadits. Kitab ini sudah dicetak dan ditahqiq oleh para ulama pada periode berikutnya. Allahu a’lam.

Jakarta, 6 Desember 2019
Yuana Ryan Tresna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *