Menu Close

Ridha dan Keberkahan.

Pondasi dari semua amal kita tentu saja keikhlasan. Karena ridha tertinggi adalah saat Allah azza wa jalla ridha kepada kita. Sebagaimana firman-Nya,

رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Demikian juga kita harus ridha pada setiap ketetapan Allah. Adapun hakikat ridhanya manusia pada keputusan Allah adalah seperti yang disampaikan imam Abu Ali Ad-Daqqaq rahimahullahu,

ليس الرضا أن لا تحس بالبلاء، إنما الرضا أن لا تعترض على الحكم والقضاء (الرسالة القشيرية)

“Ridha bukan berarti kamu tidak merasakan cobaan sama sekali. Tapi ridha adalah kamu tidak protes atas keputusan dan ketentuan.” (Risalah Qusyairiyah).

Maksudnya, seseorang yang memiliki sifat ridha bukan berarti tidak merasakan betapa beratnya ujian dan cobaan yang menimpanya. Akan tetapi ia tidak pernah memprotes keputusan dan ketentuan Allah tersebut.

Adapun ridhanya manusia, pada kadar tertentu sangat penting kita dapatkan. Setiap ada keridha-an, selalu ada kebaikan. Maka jangan sepelekan keridha-an orang yang memiliki hubungan penting dengan kita. Saat ridha dari orang-orang yang Allah wajibkan kita bermuamalah baik dengannya tdk didapat, sering kali menjadi krikil bahkan ganjalan dalam kehidupan kita.

Suami, jika hendak menikah lagi misalnya, hendaklah mendapatkan ridha istri, anak, orang tua dan mertua. Anak, jika hendak menempuh suatu ujian hidup dan dihadapkan pada sebuah masalah, mintalah doa dan ridha orang tuanya. Pengusaha/pedagang, saat bermuamalah dengan konsumen, dapatkan ridha mereka dengan menunaikan hak-haknya. Ridha itu akan menumbuhkan lipat-lipat keberkahan. YRT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *